Oleh Ritno Hendro Irianto
Wartawan Republika
Sembilan tahun lalu nama Joanne Kathleen Rowling hanyalah sebuah nama
yang layak dijadikan bahan olok-olokan. Saat bekerja sebagai guru
Bahasa Inggris di sebuah sekolah di Portugis, ia bahkan sering
dipanggil oleh murid-muridnya dengan sebutan 'Rolling Stone', plesetan
dari nama belakangnya, Rowling. Jauh sebelum itu, saat pindah bersama
keluarganya dari Bristol ke Winterbourne, JK Rowling bahkan terbiasa
dengan keusilan kawan-kawan barunya yang suka mem-pleset-kan namanya dalam gurauan: ''Rolling pins...''
Tapi plesetan-plesetan
ini tak cukup mempengaruhi JK Rowling untuk membenci tabiat anak.
Sebaliknya ia bahkan semakin getol mengamati sosok anak dengan berbagai
karakternya. Dan siapa sangka dari petualangannya menyelami kehidupan
anak yang kemudian melahirkan karakter 'Harry Potter', nama Rowling
kini dicatat sejarah sebagai penulis yang dipuja-puja jutaan anak?
Adalah Bloomsbury Children's Books yang pertama kali mengangkat nama JK
Rowling. Di saat semua penerbit di London menolak mentah-mentah
mempublikasikan naskah cerita karya JK Rowling, Bloomsbury justru
menangkap peluang besar pada karakter tokoh Harry Potter dalam cerita
itu. Dan benar, ketika Harry Potter and the Philosopher's Stone diterbitkan Juni 1997, karya JK Rowling ini langsung merebut perhatian masyarakat Inggris.
Dalam sekejap sukses pun langsung diraih. Masih di tahun yang sama, buku ini meraih penghargaan Smarties Book Prize Gold Medal dan juga disebut sebagai British Book Awards Children's Book of the Year. Gelar lain yang disabetnya adalah Guardian Fiction Award.
Sukses yang lebih besar datang saat buku ini dipamerkan di Bologna Book Fair. Seorang editor dari Scholastic Books, Arthur Levine, dengan berani membeli hak cipta Harry Potter and the Philosopher's Stone untuk Amerika. Dengan hak seharga 105 ribu dolar AS itulah buku yang sama muncul dalam versi AS dengan judul Harry Potter and the Sorcerer's Stone di tahun berikutnya. Dengan sentuhan Amerika ini Harry Potter melejit bagai meteor dan masuk daftar bestseller buku anak-anak, sekaligus menorehkan nama JK Rowling dalam sejarah perbukuan.
Sementara Harry Potter
edisi pertama jadi 'buku saku' yang selalu dibaca setiap penumpang
kereta api bawah tanah di London di tahun 1999, karya kedua JK Rowling,
Harry Potter and the Chamber of Secrets, meluncur dan langsung jadi bacaan anak-anak di AS. Dan Harry Potter and the Prisoner of Azkaban dirilis pada September 1999, ketiga buku cerita anak karya Rowling muncul di daftar bestseller New York Times secara berbarengan selama tiga bulan penuh.
Di tahun yang sama, karya pertama Harry Potter and the Sorcerer's Stone
juga menduduki peringkat pertama dalam daftar sepuluh besar ALA's Best
Books. Dari sanalah JK Rowling menikmati popularitas yang semakin
mendunia: Bukunya dipublikasikan dalam 30 bahasa. Melalui penerbit yang
sama, tahun ini JK Rowling bahkan menerbitkan buku barunya, Harry Potter and the Goblet of Fire. Dan sementara tiga seri buku Harry Potter lainnya masih dalam rencana penerbitan, kisah petualangan Harry Potter ini bahkan segera diangkat dalam layar lebar tahun ini.
Sukses JK Rowling yang berjalan dengan sangat cepat ini, tentu jadi
sebuah prestasi yang sangat spektakuler. Apa sebenarnya 'rahasia
sukses' JK Rowling? Puluhan wawancara layar kaca, ribuan artikel, dan
jutaan bentuk diskusi dalam internet, telah mencoba menganalisisnya.
Tapi kunci suksesnya sangat sederhana: Membaca dan menulis. Sejak
kecil, kelahiran Bristol (Inggris) 31 Juli 1965 bernama lengkap Joanne
Kathleen Rowling ini memang gemar membaca. E Nesbit dengan cerita
petualangan fantastiknya dan Elizabeth Goudge dengan The Little White Horse-nya
adalah dua nama penulis cerita yang sangat akrab di telinga JK Rowling
di masa kecilnya. Di usia enam tahun, JK Rowling bahkan menulis buku
pertamanya dengan judul Rabbit.
Membaca tentu saja tak cukup dijadikan modal untuk menjadi penulis. Hal
lain yang teramat penting dirasakan JK Rowling adalah imajinasi, yang
sempat dipupuknya di sela-sela kewajiban mengikuti pelajar SMA yang
membosankan. Sejak itulah JK Rowling menyadari bahwa imajinasi adalah
satu-satunya kemuatan yang dapat diandalkan, sebagaimana pernah ia
ungkapkan dalam wawancaranya dengan Majalah Book Links.
''Buku saya tak lebih dari suatu bentuk kekuatan imajinasi. Imaninasi
tentang bagaimana Harry memahami dan mengembangkan potensinya. Tak
lebih dari itu,'' kata Rowling yang kini tinggal di Edinburgh,
Skotlandia, bersama putri tunggalnya, Jessica.
Hal lain yang harus dicatat sebagai kekuatan JK Rowling adalah pilihan
hidupnya yang jatuh pada dunia anak. Bagaimanapun, melalui karakter
anak bernama 'Harry Potter' itu pula terangkat nilai-nilai kemanusiaan
yang unik dan spesial, yang mampu membentuk suatu tali persahabatan dan
jalinan hubungan antarmanusia, dan menemukan kekuatan untuk mengalahkan
kejahatan.
Kecintaan JK Rowling pada anak makin dikuatkan dengan rencananya menerbitkan buku Harry Potter
edisi khusus di awal tahun ini dengan target penjualan sebesar 33 juta
dolar AS. Keseluruhan hasil penjualan itu kelak disumbangkan untuk
kesejahteraan anak. ''Anda juga harus membelinya; dan dengan begitu
Anda menyelamatkan hidup anak-anak,'' kata Rowling saat meluncurkan Harry Potter and the Goblet of Fire di London 8 Januari 2001.
Tiga hari kemudian, nama triuner muda ini resmi dimasukkan dalam Who's Who
-- daftar orang terkaya dan terpopuler di Inggris -- edisi tahun 2001,
berdampingan dengan Pierce Brosnan (aktor pemeran James Bond) dan
Lennox Lewis (juara dunia tinju kelas berat). Ini melengkapi 30.000
nama yang telah tercantum sebelumnya sejak Who's Who diterbitkan tahun 1849.
Imajinasi adalah kekuatan. Dan bagi Rowling kekuatan itu kini menjelma sebagai realita kehidupan yang fantastis.
 | Indeks | Jul 18, '06 6:38 AM for everyone |
Oleh Dian R Basuki
Pecinta Buku
Bila ada segi yang terlupakan, diabaikan, atau malah kerap ditinggalkan
dalam penerbitan sebuah buku, itulah indeks. Tatkala indeks semestinya
menjadi kelaziman, keharusan yang menuntut penggarapan serius, banyak
penerbit di negeri ini justru memandangnya dengan sebelah mata. Untuk
apa ada indeks? Apakah orang membaca indeks? ''Repot,'' ujar seorang
manajer penerbitan tatkala disarankan agar membiasakan membuat indeks
untuk buku-buku yang ia terbitkan.
Penistaan martabat indeks itu tampak dari buku-buku yang beredar:
Sebagian besar tidak menggunakan indeks sebagai pemandu bagi pembaca
untuk melacak konsep-konsep penting di dalam buku tersebut. Penempatan
indeks di halaman-halaman terakhir sebuah buku memang membuat orang
malas menengoknya. Namun itu sama sekali tidak mengurangi posisi
strategis indeks sebagai kata kunci yang memudahkan pembaca untuk
melacak pengertian suatu konsep, atau menapaki konteks sebuah nama
maupun suatu peristiwa.
Tanpa indeks, seorang pembaca mesti mencari nama, konsep, atau
peristiwa yang dibahas dalam buku tersebut dengan menyusurinya halaman
per halaman. Betapa melelahkan. Betapa membosankan! Atau, paling banter, ia hanya bisa dibantu oleh daftar isi buku -- yang seringkali tidak memadai sebagai alat pandu.
Daftar isi hanya menunjukkan garis besar pemikiran si penulis; indeks
menunjukkan kata-kata kunci yang dipakai si penulis dalam menjelaskan
pikirannya. Indeks adalah sejenis mesin pencari (search engine) di dunia maya, dalam formatnya yang paling sederhana. Artinya, indeks adalah kunci tercepat dan termudah.
Di dunia internet, dengan sekali ketik dan enter,
mesin pencari dengan cepat memamerkan konteks dari kata yang diketikkan
-- puluhan, ratusan, bahkan ribuan konteks. Kendati sederhana, indeks
amat memadai sebagai alat bantu bagi pembaca untuk menemukan halaman
tempat sebuah subjek dibahas oleh penulisnya.
Penulis lain, yang tengah merujuk buku tertentu, dengan cepat ia bisa
menemukan konsep, nama, peristiwa yang ia cari tanpa mesti membuka
halaman demi halaman. Bagi pembaca yang sibuk dengan urusan lain, dan
hanya memerlukan informasi tertentu pada suatu ketika, indeks merupakan
jalan keluarnya -- ia langsung menunjuk informasi yang dimaksud.
Membuat indeks memang tidak mudah. Bukan saja dibutuhkan pemahaman atas
manakah sesungguhnya istilah yang penting dan yang berkategori kelas
tiga, figur yang menentukan dan yang biasa-biasa saja, tempat dan
peristiwa yang bersejarah dan yang cukup diketahui. Membuat indeks
membutuhkan pula ketekunan, kecerdasan, dan kejelian dalam memilah mana
yang perlu dan mana yang tidak perlu masuk ke dalam indeks.
Dengan cara konvensional, membuat indeks -- mencatat istilah, nama,
tempat, peristiwa, sekaligus letak halaman di dalam buku -- memang
melelahkan. Namun, perkembangan teknologi peranti lunak memudahkan
pekerjaan semacam itu; tatkala pokok yang penting telah ditetapkan,
piranti lunak untuk pengindeksan (indexing) akan mengambil alih tugas menentukan halaman dan menyusun urutannya.
Teknologi indexing
semestinya mendorong para penerbit untuk memikirkan kembali kebiasaan
lamanya yang merendahkan martabat indeks. Rasanya tidak cukup alasan
untuk tidak membuat indeks, kecuali kemalasan. Kehadiran indeks
sesungguhnya juga merupakan layanan strategis bagi pembaca buku.
Kehadiran indeks menandai pula keseriusan penerbit dalam
mempublikasikan sebuah buku. Betapa serius soal indeks buku ini
terbukti dengan adanya sebuah komunitas pengindeks di Amerika, yakni American Society of Indexers. Jadi, mari buang kemalasan itu!
Oleh Muhammad Subarkah Wartawan Republika
Baghdad 1258 M. Kota indah yang berada di lembah sungai Tigris -- yang
konon sudah didiami umat manusia sejak 4000 tahun sebelum Isa Almasih
lahir -- dilumat habis tentara Mongol. Bangunan dihancurkan. Rumah
dibakar. Laki-laki dibunuh. Perempuan lari lintang pukang menjerit
ketakutan.
Bekas daerah imperium kuno Babilonia ini untuk kesekian kalinya kembali
menemui nasib tragis. Baghdad yang saat itu dipuja sebagai pusat ilmu
pengetahuan dunia benar-benar berada ditubir kebangkrutan peradaban.
Pasukan Hulagu menyerbu menghancurkan apa saja. Tidak cukup membunuh,
bala tentara cucu Jengis Khan itu juga melumat buku-buku. Perpustakaan
dibongkar. Isinya ditenggelamkan ke sungai Tigris. Sebagian lainnya
dibuat perapian untuk memasak makanan.
Dan saking banyaknya buku yang diceburkan ke dalam sungai Tigris, konon
warna air sungainya pun ikut berubah kehitamaan akibat kelunturan
tinta. Hulagu, sang panglima perang dari sebuah bangsa barbar, memang
tidak peduli dengan jutaan entri dokemumentasi hasil pengembangan akal
budi manusia. Buku dianggapnya tidak begitu penting selayaknya pedang,
emas, rampasan perang, termasuk perempuan tawanan.
Kemashuran kota yang didirikan Khalifah Ja'far Al-Mansur dari Dinasti
Abbasiyah pada 762 M itu, setelah penyerbuan pasukan Mongol segera saja
meredup dengan hebat. Bukan hanya itu, secara perlahan rakyatnya mulai
terjangkiti sindrom 'amnesia peradaban'. Akibat lenyapnya buku, maka
mereka tidak bisa lagi mencari rujukan pemikiran. Dalam satu generasi
kerusakan mental itu belum tampak begitu parah. Banyak orang, terutama
mereka yang punya kemampuan mengingat tinggi, masih bisa merekontruksi
pikirannya secara jernih. Namun, setelah lebih dari tiga generasi
kekuatan mengingat itu pun menghilang. Akibatnya, kehidupan di Baghdad
terus tersuruk. Penjajahan datang silih bergangti.
Setelah Hulagu, penakluk dunia asal padang rumput Mongolia lainnya,
Timur Lenk, pada 1400 M menggempur kota itu. Memang penyerbuan ini
tidak terlalu banyak hasilnya. Tapi bagi warga Baghdad sungguh sangat
menyengsarakan. Usai Timur Lenk, pada 1508 M datang penakluk baru,
yakni Syah Ismail Shafawi. Dan nasib mengenaskan ini terus terjadi.
Berbagai imperium seperti Turki dan Inggris bergantian menjajahnya. Dan
warga Baghdad baru sedikit bisa bernapas lega setelah tahun 1921 M,
yakni pada saat Kerajan Iraq didirikan.
Catatan sejarah mengatakan, setelah sempat hidup termashur, kehidupan
Baghdad pada 1700 M pernah mencapai titik terendah. Waktu itu
penduduknya sempat tersisa 15 ribu jiwa saja. Padahal pada masa
keemasannya, pada zaman Khalifah Harun al-Rasyid sekitar tahun 800 M,
kota asal hikayat 'Seribu Satu Malam' itu mempunyai penduduk hingga
lebih 1,5 juta jiwa.
Baghdad dalam soal ini memang tepat untuk menjadi refleksi betapa
pentingnya buku bagi sebuah peradaban. Bangsa yang besar ternyata tidak
bisa mengabaikan buku. Amerika Serikat misalnya, sebagai negeri adidaya
mereka punya Perpustakaan Konggres yang koleksi bukunya sangat lengkap.
Sindrom 'amnesia peradaban' ini di Indonesia sebenarnya sudah juga
terjadi. Contoh tersebut bisa berkaca pada situasi kehidupan orang
Jawa. Suku yang mengklaim mempunyai budaya adiluhung ini ternyata tidak
punya koleksi catatan pemikiran memadai. Setiap orang yang ingin
mempelajari kebudayaan Jawa, mau tidak mau harus pergi mencari acuan ke
Perpustakaan Leiden di Belanda. Dan sama halnya dengan nasib rakyat di
Baghdad, orang Jawa selama berabad-abad juga hidup terpuruk di kaki
penjajahan.
Contoh lain sindrom amnesia di Indonesia itu terbaca jelas pada kasus
hilangnya catatan seputar peristiwa yang terjadi sekitar tahun 1965.
Bukan hanya buku yang membicarakan ajaran Marxis-Leninis saja yang
raib, secarik kertas Super Semar pun hingga kini tidak diketahui
rimbanya. Dan kini yang ada hanyalah catatan yang tidak begitu penting.
Akibatnya, mencari arsip koran underbouw PKI, Bintang Timur, di Arsip
Nasional misalnya, menjadi sebuah pekerjaan yang sulit. Arsip yang
lengkap untuk koran komunis itu malah ada di Perpustakaan Konggres
Amerika Serikat.
Bagi umat Islam, sindrom amnesia itu juga terasa. Untuk mencari
referensi peninggalan catatan musik dari Ibnu Sina misalnya, harus
'lari' ke Inggris. Di sana catatan mengenai warisan Islam terhadap
perkembangan musik terdokumentasi dengan lengkap. Barat memang berbeda
dengan kekaisaran diktator Mongol. Mereka menghargai buku,
mempelajarinya, dan menyimpannya dengan baik hingga berabad-abad
kemudian.
Alhasil, buku ternyata adalah salah satu tiang peradaban. Si jenius
Thomas Alva Edison tidak mungkin bisa mencipta hampir seratus penemuan
baru tanpa dia membaca buku. Begitu juga Albert Enstein atau Stephen
Hawking. Bahkan juga Bung Karno, Syahrir, Hatta, Agus Salim, dan
Natsir. Para tokoh itu pasti pencinta buku. Bahkan ketika mereka harus
masuk ke sel penjara atau menjalani pembuangan, teman setia
satu-satunya adalah buku. Bukan yang lainnya.
Oleh: Bagus Takwin
Pengalaman menunjukkan
kepada saya, buku dan interaksi sosial antar orang punya hubungan saling
mempengaruhi. Buku bisa jadi ikatan yang menyatukan orang-orang, memberi
dinamika dan mengembangkan interaksi di dalamnya. Di sisi lain, interaksi orang
dengan kesamaan minat, tujuan, kepedulian dan ikatan-ikatan lainnya tak jarang
membawa mereka kepada keterlibatan yang intens dengan buku. Interaksi antara
orang-orang, adanya satu atau lebih ikatan yang sama, dan sebuah area konteks
merupakan unsur-unsur utama dari komunitas dalam arti luas (Hillary, 1955).
Dengan pengertian ini, dapat saya katakan bahwa hubungan antara buku dan
komunitas sangat erat.
Mencermati pengalaman
sendiri, juga pengalaman orang lain, saya mendapat banyak contoh tentang
hubungan buku dan komunitas dalam arti luas. Sejak mulai secara aktif membaca
hingga saat ini, saya selalu mendapatkan banyak masukan tentang buku-buku apa
saja yang baik dan enak dibaca dari teman-teman. Interaksi saya dan mereka
dalam berbagai komunitas memberi banyak tambahan wawasan tentang beragam buku
yang baik. Saya juga menjalani banyak pengalaman bertemu orang-orang baru dari
berbagai komunitas melalui buku. Minat dan kegemaran membaca buku tertentu
membawa saya bertemu dengan orang-orang yang juga menyenangi buku yang sama.
Ijinkan saya bernostalgia ke
masa kecil dan pamer sedikit pengalaman saya bersahabat dengan buku.
Kisah-kisah dari Masa Kecil
Keintiman saya dengan buku
di masa kecil, tepatnya di kelas 2 sekolah dasar, berangkat dari interaksi saya
dengan teman-teman di sekolah. Saya ingat waktu itu di SD saya setiap minggu
ada kegiatan membaca buku di perpustakaan (tepatnya lemari buku yang ada di
sekolah; lemari berukuran 150 X 100 cm itulah perpustakaan sekolah kami).
Murid-murid dibebaskan untuk memilih buku apa saja yang mau dibaca, biasanya
satu orang satu buku. Di perpustakaan mini itu hanya ada satu buku bergambar
hitam putih, isinya dongeng tentang kancil dan buaya. Sesuai dengan tahap perkembangan
kognitif kami yang masih berorientasi kepada stimulus kongkret, buku itulah
yang paling digemari dan selalu menjadi rebutan. Sebagai anak yang tidak
terbiasa berebut, saya selalu saja tidak berhasil meminjam buku itu.
Teman-teman yang lebih cepat dan tangkas sudah lebih dahulu mendapatkan buku
itu. Biasanya, empat sampai lima
orang bersama-sama membaca dan menikmati gambar-gambar buku itu. Saya yang
selalu terlambat untuk ikut serta mendapat hak membaca buku itu hanya bisa
mengintip isi buku itu. Dibandingkan dengan buku cerita lain yang hanya berisi
tulisan, buku kancil dan buaya itu jauh lebih menarik bagi kami.
Tanggapan teman-teman saya
terhadap buku itu serta cerita mereka tentang betapa asyiknya membaca buku itu
menerbitkan keinginan besar pada diri saya untuk membacanya. Cukup lama saya
memendam keinginan menikmati sendiri sepuas-pusanya buku bergambar itu tetapi
selalu saja kalah gesit oleh teman-teman. Pernah sekali-dua kali saya ceritakan
keinginan itu kepada ibu. Beliau menanggapi dengan pernyataan, “Nanti kalau ke Bandung dan sempat ke toko
buku, kita beli ya.” Saya pun berharap besar ibu saya pergi ke Bandung dan membelikan
saya buku cerita bergambar. Kami tinggal di Dayeuhkolot waktu itu, salah satu
daerah utama Kabupaten Bandung yang berjarak
kurang dari 10 km dari kota Bandung.
Saat tidak ingat persis
berapa saya mendambakan buku cerita bergambar sebelum sampai saatnya Bapak dan
Ibu saya suatu hari pulang ke rumah membawa tiga buku cerita. Bukan hanya
bergambar, buku-buku itu berwarna. Gambarnya jauh lebih hidup dibandingkan
dengan buku dongeng kancil dan buaya di sekolah. Bukan main suka-citanya saya
mendapat harta yang buat saya waktu itu amat berharga. Saya bawa ketiganya ke
sekolah untuk diperlihatkan kepada teman-teman, tentu setelah saya puas
menikmatinya sendiri di rumah. Tiba-tiba saya jadi anak yang paling banyak
didekati oleh teman-teman sekelas, jadi murid populer. Bahkan murid-murid dari
kelas lain pun datang berkunjung ke kelas kami untuk ikut menikmati buku-buku cerita
bergambar milik saya. Teman-teman memperlakukan saya seperti seorang juragan,
‘juragan buku’. Betapa bangganya saya waktu itu. Setelah itu saya membina
pertemanan dengan beberapa teman penggemar buku. Beberapa teman lain yang
tadinya tak begitu tertarik dengan buku pun bergabung dengan kami karena
menurutnya kelompok kami punya keasyikan tersendiri. Saya pun makin menggemari
buku. Dari sanalah, saya punya penghargaan yang tinggi terhadap buku. Saya
goreskan dalam kenangan saya: buku adalah alat ampuh untuk menarik perhatian
orang lain; buku adalah alat survival yang membawa kita kepada
keunggulan.
Saya andaikan, jika saja
teman-teman saya waktu itu tidak tertarik dengan buku yang saya bawa, apakah
saya tetap menghargai buku? Jika saja sekolah tidak menyediakan porsi waktu
bagi murid-muridnya untuk membaca buku, apakah saya akan punya ketertarikan
besar terhadap buku? Yang pasti, kejadian semasa saya di kelas 2 SD itu menjadi
pendorong besar bagi saya untuk menggemari buku, selain juga dukungan dari
Bapak dan Ibu. Lingkungan sosial saya waktu itu punya peranan besar menjadikan
saya orang yang terus tergila-gila pada buku. Biarpun saya tidak khusus
membentuk komunitas waktu itu, interaksi saya dengan orang-orang di sekitar
yang membawa saya akrab dengan buku.
***
Tahun 1978, keluarga saya
pindah ke Palu, ibu kota
Sulawesi Tengah. Pengalaman hidup di kota
yang dilintasi garis Katulistiwa itu pun menunjukkan kepada saya betapa peran
komunitas berperan bagi perkembangan perilaku membaca buku yang ada pada saya.
Kebetulan orang-orang yang pertama saya kenal di sana adalah para pembaca buku. Dari mereka
saya menambah pengetahuan tentang beragam buku. Hingga tahun keempat saya
tinggal di Palu, kami punya kelompok pembaca komik. Bermacam komik kami lahap
waktu itu: Serial Mandala si Siluman Sungai Ular, Jaka Sembung, Panji
Tengkorak, Si Buta dari Gua Hantu, Panji Gumirang, Sinar Perak Bango Samparan,
komik-komik karya Teguh Santosa dan Henky & Co, juga cerita silat Ko Ping
Ho. Kami juga membaca berbagai majalah anak-anak dan remaja seperti Bobo,
Ananda, Tom Tom, dan Hai. Kami masing-masing mengidentifikasi tokoh-tokoh dalam
komik. Ada yang merasa dirinya mirip Si Buta dari Gua Hantu, ada yang
mengidentifikasi dirinya sebagai Mandala si Siluman Sungai Ular, ada juga yang
merasa lebih cocok jadi Nirmala atau Oki, dua peri baik hati dari Negeri
Dongeng. Isi bacaan kami meresap ke dalam keseharian kami, ikut memberi bentuk
bagi kerangka berpikir dan bertindak kami waktu itu.
Kelompok kami juga
mengoleksi buku, pribadi dan kelompok. Bahkan kami sempat membuat tempat
penyewaan buku, juga tempat membaca gratis di rumah seorang teman. Rumah saya
pun tak jarang jadi tempat kami berkumpul. Pernah juga saya buka taman bacaan
dan tempat penyewaan buku di rumah saya. Untuk melengkapi taman bacaan kami,
saya dan teman saya pernah sampai mencuri buku di perpustakaan propinsi dengan
alasan buku-buku itu jarang ada yang baca dan kurang terawat di sana; lebih baik kamu
yang merawatnya dan mencarikan orang yang ingin membacanya. Bapak dan Ibu
mendukung saya mengoleksi buku. Mereka menyediakan anggaran untuk membelikan
saya dan adik buku serta majalah. Mereka senang anak-anaknya gemar membaca.
Tentu saja saya tidak pernah cerita kepada keduanya bahwa kami pernah mencuri buku.
Bisa berabe kalau Bapak dan Ibu tahu tentang itu. Buku-buku curian yang
ditandai stempel perpustakaan propinsi Sulawesi Tengah saya sembunyikan agar
tidak ketahuan Bapak dan Ibu. Tetapi buku curian hanya sedikit jumlahnya,
kurang dari 10. Kami cukup takut kepergok penjaga perpustakaan dan mencuri
bukanlah pekerjaan mudah bagi kami.
Tidak puas dengan penjual
buku yang ada di dekat rumah, kami memburu buku ke kecamatan lain, jalan kaki
berkilo-kilo, masuk ke pelosok-pelosok pasar menapaki jalan becek dan bau,
melintasi ladang-ladang sampah, menguras uang saku kami untuk buku, terutama
komik. Lalu, uang yang disediakan orang tua untuk membeli buku jadi tak cukup
lagi. Kami harus mencari siasat untuk bisa membeli dan meminjam buku lebih
banyak lagi. Saya mengajukan proposal kepada Ibu untuk melakukan pembelian
sendiri setiap kebutuhan sekolah saya, mulai dari buku tulisan dan teks,
sepatu, tas, dan sebagainya. Tujuannya, agar saya bisa membeli barang-barang
yang lebih murah sehingga ada sisa uang yang dapat saya belikan buku cerita.
Dengan perdebatan yang cukup alot, akhirnya ia setuju dengan proposal saya.
Bertambahlah koleksi saya dengan pesat. Teman-teman pun mengikuti cara saya,
maka bertambahlah buku kami.
Di masa itu, kecintaan saya
terhadap buku sudah mengental, meski sebatas komik dan bacaan remaja seperti
serial Lima Sekawan dan Sapta Siaga. Komunitas pembaca buku yang
ada di sekitar rumah dan sekolah saya makin membawa saya masuk lebih dalam ke
belantara buku.
***
Di tahun 1985, setelah naik
kelas 3 SMP, saya pindah ke Jakarta
setelah setahun sempat tinggal di Bandung.
Selama di Bandung, saya lebih banyak terlibat dengan komunitas musik tetapi
kegemaran membaca jalan terus. Komik masih menjadi bacaan favorit saya selain
novel-novel pop Indonesia
dan terjemahan dari Bahasa Inggris. Pengalaman dengan kelompok membaca sedikit
sekali saya dapatkan di Bandung.
Berbeda dari itu, di Jakarta saya kembali tergerak untuk mencari teman-teman
yang gemar membaca. Kebetulan banyak sepupu saya yang gemar membaca. Di rumah
Bude (kakak dari Bapak) yang saya tumpangi ada banyak buku milik anak-anaknya
yang kurang lebih sepantaran dengan saya. Kegemaran membaca yang meluap dalam
diri saya mendapatkan penyalurannya. Saya lahap buku-buku yang ada di sana, komik, novel,
cerita silat, beragam majalah saya baca habis. Perilaku saya membeli buku pun
meningkat; hampir setiap hari saya membeli buku. Keinginan untuk berbagi
pengalaman membaca pun menguat disertai dengan keinginan untuk mendapat
informasi tentang buku-buku yang menarik dan perlu dibaca. Saya secara aktif
mencari teman yang suka membaca buku. Setiap berkenalan dengan orang baru, saya
tanya apakah ia suka membaca buku. Jika iya, maka saya ajak ia ngobrol tentang
buku.
Lama-lama teman dekat saya kebanyakan
adalah orang yang suka baca buku. Setelah lulus SMP, saya mendapat tambahan
beberapa teman yang gemar baca buku. Saya kenalkan mereka ke teman-teman lama
saya. Mereka pun cepat akrab karena punya minat yang sama. Lalu kami sepakat
membentuk kelompok pencinta buku. Kegiatannya, saling-meminjamkan buku, diskusi
dan membuat puisi untuk dibaca bersama-sama. Saya kenal Agatha Christie, Iwan
Simatupang, Kahlil Gibran, W.S. Rendra, Goenawan Mohamad, Marga T., Arswendo,
Lupus, Budi Darma, juga Fuad Hassan dan Sapardi Djoko Damono dari interaksi
dalam kelompok itu. Minat saya kepada karya sastra makin membesar.
Saya juga mulai berkenalan
dengan para pemikir filsafat seperti Plato, Rene Descartes, bahkan Nietzsche
dalam kelompok itu. Majalah yang saya baca pun beralih dari majalah remaja ke
majalah dewasa, seperti Tempo, Matra, Horison, juga majalah Zaman yang sudah
tidak terbit lagi waktu itu. Kami juga rajin mengunjungi pameran buku, menonton
teater dan pembacaan puisi, juga diskusi buku dan jumpa pengarang, serta
mengutip syair-syair cinta dari beberapa pengarang untuk dikirimkan kepada
pacar atau orang yang sedang ditaksir.
Beberapa alumni SMA kami
yang kuliah di ITB dan UI beberapa kali datang ke sekolah. Mereka banyak cerita
tentang berbagai kelompok diskusi yang berkembang di kampus. Beberapa kali
kami berkunjung ke sana
untuk menimba pengalaman. Banyak informasi tentang buku baru kami dapat di sana. Kami juga banyak
berkunjung beberapa klub atau kelompok yang punya kegiatan membaca dan diskusi
buku, ikut lomba pembacaan dan musikalisasi puisi yang mereka selenggarakan.
Beberapa kali kami menang dan mendapat hadiah buku. Bukan main senangnya. Saya
ingat waktu mendapat penghargaan penampil musikalisasi terbaik di Depdikbud
tahun 1987, kami mendapat hadiah parcel buku dari Mendiknas Fuad Hassan. Isinya
kebanyakan buku dari penulis Indonesia
yang baru kami kenal. Ada karya Subagio Sastrowardoyo, H.B. Jassin, Umar Junus,
Sutardji Calzoum Bachri, Taufik Ismail, Putu Wijaya, dan Satyagraha Hoerip. Pertemanan
saya dengan sastra Indonesia
makin erat sejak saat itu. Pertemuan dan bincang-bincang dengan beberapa
penyair seperti W.S. Rendra dan Sapardi Djoko Damono juga memperbesar semangat
dan kebanggaan tambahan bagi kami sebagai penikmat sastra. Semua itu saya alami
bersama komunitas teater dan sastra di sekolah.
Buku memenuhi dan mewarnai
masa SMA saya. Identitas diri saya sebagai pencinta buku terbentuk jelas di
masa itu. Saya pun mulai menulis puisi dan coba-coba membuat cerpen. Lalu
diam-diam saya mulai bercita-cita jadi penulis, cita-cita yang terus menggebu
hingga kini.
Pengalaman di Kampus
Tahun 1990, saya masuk ke
Fakultas Psikologi UI (Fpsi-UI). Berbekal pengalaman menyenangkan bergaul
dengan buku dan keinginan untuk jadi penulis, saya mencari teman-teman yang
suka membaca buku. Tidak sulit, ternyata. Cukup banyak teman seangkatan saya
yang ‘gila’ buku. Bersama mereka, petualangan saya dalam kesustraan dan
filsafat dunia berlangsung. Selain dengan teman-teman seangkatan, saya juga berhubungan
dengan senior yang menggemari buku. Lebih luas lagi, saya ikut kelompok diskusi
buku di fakultas lain, seperti Fakultas Sastra (FS-UI) dan Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik (FISIP-UI).
Di FPsi-UI, kebersamaan
dengan teman-teman sesama pencinta buku membawa kami kepada diskusi-diskusi
buku. Berbagai buku dan penulis dunia mulai saya kenal: James Joyce, Virginia
Woolf, Aldous Huxley, George Orwell, Graham Greene, Martin Amis dan Nick Hornby
dari Inggris, Ernest Hemingway dari Amerika Serikat, Knut Hamsum dari Norwegia,
Italio Calvino dari Italia dan Camilo José Cela dari Spanyol; juga buku-buku
dari khazanah pra-modern Beowulf, fiksi dalam bentuk puisi yang
ditulis pada abad 8 M dan dikenal sebagai karya fiksi Inggris pertama dari masa
Anglo-Saxon, Apollonius of Tyre sebuah prosa Inggris pertama yang
dianggap sebagai awal dari genre roman dalam Sastra Inggris, terbit abad
11 M, dan The Canterbury Tales (yang banyak dijual di bursa buku murah),
ditulis sekitar tahun 1387-1400 M serta Gawain and the Green Knight,
ditulis sekitar tahun 1400 M. Karya-karya filsafat kami kenali seiring dengan
jalannya beberapa mata kuliah filsafat. Dengan susah payah kami baca Plato,
Aristoteles, Jean Jacquest Rousseau, John Locke, Thomas Hobbes, Nicollo
Macheavelli, F.W. Nietzsche, dan sebagainya.
Bertemu dengan teman-teman
dari jurusan Sejarah FS-UI, saya mendapat banyak masukan tentang buku-buku
sejarah Indonesia.
Saya berkenalan dengan karya-karya Sukarno, Sjahrir, Hatta, Tan Malaka, dan
lain-lain. Dari sana
saya banyak belajar tentang kelompok-kelompok pemikir yang banyak mendapatkan
ide-ide pembaruannya dari diskusi-diskusi dalam komunitas kecil. Saya juga
mendapat pemahaman tentang asal-muasal pemikiran yang menggerakkan Revolusi
Perancis. Para intelektual Perancis abad ke-18
yang dikenal dengan sebutan pilosophes sering berkumpul di kafe-kafe
untuk membahas berbagai persoalan sosial, budaya, sejarah, politik, dan sastra.
Mereka dianggap penggagas dan pemberi inspirasi bagi perubahan yang mendorong
terjadinya revolusi dari negara monarki ke republik di Perancis.
Jauh sebelum Revolusi
Perancis, di Abad Pertengahan sudah berkembangan lingkungan belajar di Paris yang dikenal dengan
nama universitas magistrorum et scholarium. Lingkungan belajar ini mendapat
hak otonomi yang dikukuhkan berdasarkan dekrit pimpinan tertinggi gereja
(Paus). Dengan otonomi yang dimiliki, cikal-bakal perguruan tinggi ini memiliki
keleluasaan untuk menyelenggarakan pelajaran dan pengembangan pemikiran
meskipun publikasinya masih terbatas dalam lingkungan sendiri. Kemudian nama universitas
magistrorum et scholarium berubah menjadi universitas literarum yang
secara harafiah berarti perguruan tinggi kesusastraan. Namun yang dipelajari di
dalamnya meliputi juga filsafat dan berbagai persoalan manusia di luar
kesusastraan. Dengan munculnya universitas magistrorum et scholarium yang
kemudian berubah menjadi universitas literarum, maka Paris dikenal sebagai kota universitas pertama. Kemudian kita tahu,
dari kalangan universitaslah perubahan dan kemajuan peradaban manusia banyak
diserukan dan digerakkan. Media penyebaran pikiran yang terutama digunakan
adalah buku. Dari sejarah ini, saya melihat bahwa peran komunitas penting dalam
perubahan zaman dan buku menjadi salah satu kunci perubahan itu.
***
Lulus dari Fpsi-UI, saya
tetap beraktivitas di kampus UI, ikut menjadi pengajar di sana. Pertemuan saya dengan semakin banyak
teman dari fakultas lain memberi wawasan lebih komprehensif tentang pentingnya
komunitas khusus yang dirancang sedemikian rupa untuk menyebarluaskan
pemikiran-pemikiran positif dan progresif. Di tahun 1997-1998, salah satu
tempat kami berkumpul adalah hutan karet di sebrang Fpsi-UI. Di sana ada teman yang
berjualan buku dan melakukan diskusi-diskusi kecil tentang berbagai hal.
Pertemuan yang cukup rutin di hutan karet membentuk pola interaksi tertentu
kepada kami, juga memberikan kesamaan ikatan berupa kepedulian terhadap buku
dan kebudayaan. Waktu itu, sebagian dari teman yang terlibat di sana sudah mulai merintis
sebuah komunitas, namanya Komunitas Bambu. Lewat berbagai percakapan serius
yang tetap diselingi humor, kami bersepakat untuk mengembangkan Komunitas
Bambu. Lalu kami menyewa sebuah tempat, semacam galeri yang bisa dipakai untuk
menjalankan rangkaian diskusi dan pertunjukan seni kecil-kecilan. Kami juga
menerbitkan beberapa buku puisi, tulisan-tulisan Tan Malaka, serta beberapa
hasil penelitian sejarah, filsafat dan psikologi. Setahun kami jalani aktivitas
bersama Komunitas Bambu, sebelum kami harus pindah ke tempat yang jauh lebih
sempit sebab pemilik tempat menuntut uang sewa dua kali lipat yang tidak mampu
kami bayar. Aktivitas diskusi dan pertunjukkan pun terhenti. Namun dari setahun
kami menjalani rangkaian aktivitas, banyak sekali yang kami dapatkan. Beberapa
pengunjung diskusi berasal dari komunitas-komunitas lain. Pertemuan kami
membawa kami kepada perjalanan mengunjungi dan bergaul dengan bermacam
komunitas. Dari perjalanan itu, saya dan teman-teman mendapat lagi tambahan
referensi buku-buku bermutu. Lagi-lagi, komunitas memberi saya pengayaan
bacaan.
Di luar konteks Komunitas
Bambu, beberapa teman dekat mendirikan Komunitas Film Independen (Konfiden).
Dua orang aktivisnya tinggal serumah dengan saya. Kami dulunya sekampus di
FPsi-UI. Interaksi saya dengan mereka menumbuhkan minat saya terhadap buku-buku
film. Saya jadi banyak membaca buku tentang film, terlibat diskusi tentang
film, meresensi film dan buku-buku film serta sempat bercita-cita menjadi
pembuat film atau setidaknya membuat skenario untuk film. Seorang teman yang
berniat menulis buku tentang produksi film banyak berdiskusi dengan saya. Ia
lalu tinggal serumah dengan kami dan menjalankan proyek penulisan bukunya
hingga selesai di rumah kami. Buku itu diterbitkan oleh Konfiden bekerjasama dengan
Penerbit Panduan dengan judul Mari Mebuat Film, penulisnya bernama Heru
Effendi.
Pengalaman saya
bersosialisasi di kampus tidak bisa saya lepaskan dari komunitas dan buku.
Keduanya selalu saling bertaut. Mungkin karena saya memang mencintai buku
sehingga cenderung mencari teman dan komunitas yang juga mencintai buku, atau
mungkin juga karena buku pada dasarnya punya watak mempertemukan orang dalam
berbagai komunitas, atau komunitas selalu membutuhkan buku dalma upaya
pelaksanaan programnya dan pencapaian-pencapaian tujuannya. Yang jelas,
pengalaman saya menunjukkan keduanya saling mempengaruhi, keduanya seperti dua
sisi dari satu mata uang.
Menengok Komunitas di Dunia dan Indonesia
Waktu hendak mulai menulis
artikel ini, saya mencari bahan dari internet. Lewat mesin pencari Yahoo dan
Google saya klik entri ‘books comunity’, ‘community and books’,
dan ‘books, community’. Hasilnya, saya temukan jutaan situs-web milik
berbagai komunitas buku dan jutaan komunitas yang menyarankan para pengunjung
situs untuk membaca buku-buku dengan topik yang sama dengan yang digumuli oleh
komunitas-komunitas itu. Jutaan komunitas real dan virtual ada di
dunia ini dan kebanyakan dari mereka terlibat erat dan intens dengan buku.
Sekedar menyebut sedikit saja
dari sekian banyak komunitas, ada Boxcar Books, The Free _Expression Network,
Bloomington Playrights Project, Center for Sustainable Living, Indiana
Forest Alliance, Creative New Zealand, BookCrossing, Campaign For Reader
Privacy, Comic Art Community, Bloomington Organic Gardeners, Community Bicycle
Project, Composting Project, Natural Building Group, Green Dove Peace Network,
Community College Fact Book Library, Internationalist Books & Community
Center-Chapel Hill, The Memorial Book for the Jewish Community of Yurburg,
Lithuania, dan The Kepler’s Books and Magazines.
Di Indonesia, setiap minggu
harian Kompas juga meliput berbagai komunitas yang berkembang di Indonesia.
Beberapa komunitas yang saya kenal juga punya keterlibatan yang erat dengan buku.
Ketika saya ke Banda Aceh, saya juga menemukan banyak komunitas budaya yang
menyelenggarakan diskusi buku, bahkan menerbitkan buku. Saya sempat
berbincang-bincang dengan orang-orang dari Komunitas Tikar Pandan yang
menerbitkan jurnal bulanan dengan isi seputar persoalan sastra Inonesia. Dari
gejala munculnya komunitas yang merebak di Indonesia dewasa ini, jelas saya
menangkap peran mereka dalam mengembangkan minat baca dan menambah wawasan
tentang buku kepada para anggotanya.
Ada beragam aktivitas
komunitas yang berkait dengan buku, di antaranya diskusi buku, pembacaan
puisi dan cerpen, menulis dan menerbitkan buku, menjual dan tukar-menukar buku,
membuka perpustakaan di daerah-daerah yang kekurangan dan perpustakaan
keliling, menjadi agen copyright buku-buku luar negeri, serta
menyelenggarakan lomba-lomba menulis dan membaca buku. Beberapa komunitas
bahkan menjadi semacam barometer dari tren buku serta dianggap memiliki standar
kualitas yang memadai sehingga jadi rujukan komunitas lain. Belakangan saya
juga mengenal komunitas yang berangkat dari toko buku seperti Tobucil dan Toko
Buku Ultimus. Kedua toko buku itu menjadi tempat berlangsungnya rangkaian
aktivitas yang berhubungan dengan buku. Lewat aktivitas-aktivitas yang mereka
selenggarakan, mereka sekaligus membuka peluang pasar buku di luar distribusi mainstream.
Komunitas-komunitas seperti itu menambah keragaman jalur distribusi dan pasar
alternatif.
Beberapa komunitas juga
mempengaruhi pendekatan dan orientasi membaca buku, terutama karya sastra. Di
Indonesia komunitas seperti Teater Utan Kayu cukup menampilkan pengaruh itu dan
mengundang pro-kontra dari komunitas lain. Di Eropa, pengaruh komunitas
terhadap pembacaan buku sudah lama berlangsung. Virginia Woolf dan suaminya
mengembangkan komunitas sastra yang aktivitasnya berlangsung di rumah mereka.
Dari komunitas itu lahirlah karya-karya sastra avant garde, juga
pendekatan kritik sastra yang berbeda dari pendekatan sebelumnya.
Di Eropa dan Amerika, banyak
komunitas dan jaringannya yang punya peran sebagai agen-agen kebudayaan. Mereka
menjadi penggagas dan pelopor gerakan kebudayaan tertentu. Campaign For Reader
Privacy yang berpusat di New York
dan Washington D.C., contohnya, merupakan komunitas yang
menggalang solidaritas dan aksi untuk menjunjung tinggi hak-hak pembaca,
memperjuangkan The Freedom to Read Protection Act. Berkembangnya
komunitas di Indonesia
pun mulai menunjukkan peran mereka sebagai agen perubahan budaya.
***
Seperti yang dikemukakan
sebelumnya, pengalaman yang langsung saya jalani dan pemahaman dari menyaksikan
pengalaman orang lain, membawa saya kepada kesimpulan bahwa komunitas dan buku
punya keterkaitan besar. Sejarah mencatat, hubungan keduanya erat sekali. Para pencinta buku, juga pengusaha dan penjual buku di Indonesia perlu
belajar banyak dari sejarah hubungan itu. Pelajaran dari sana saya kira bisa jadi sumbangan besar bagi
upaya kita menciptakan dan mengembangkan masyarakat pencinta buku dan industri
buku yang sehat di Indonesia.***
(Disampaikan dalam MP Afternoon Tea, 29 April 2006)
Powerful
(= berdaya), sebuah kata yang menjadi impian para penggerak bisnis apa
pun, tidak terkecuali penerbit buku. Penerbit buku yang powerful bukan
hanya bisa memberikan yang terbaik untuk para pembacanya, melainkan
juga meniscayakan kesejahteraan untuk para stakeholdernya. Thomas Woll dalam bukunya Publishing for Profit
mencanangkan bahwa pada awalnya sebuah penerbit sukses itu harus
memiliki C3: commitment, concistency, dan credibility. Tanpa salah satu
di antaranya, langkah sukses akan terhenti. Alhasil, owner sebuah
penerbit harus memahami benar hakikat dunia buku agar ia bisa memiliki
komitmen, bersikap konsisten, sekaligus memiliki kredibilitas dalam hal
aturan, seni, maupun ilmu di bidang penerbitan. Saya sendiri merumuskan satu rahasia sukses penerbit dengan 4C: - Content
--> penerbit yang bisa berjaya manakala bisa mengolah isi naskah
menjadi buku yang berdaya, apa pun jenisnya dan tanpa harus bergantung
pada tren.
- Context
--> penerbit yang bisa berjaya manakala ia memiliki sense terhadap
pengemasan dengan memperhatikan segi penggunaan dan juga artistik.
- Creativity
--> unsur bebas berkreativitas sekaligus bertanggung jawab menjadi
faktor penentu terhadap lahirnya kreasi dan inovasi dari para penggerak
aktivitas penerbitan.
- Community --> penerbit yang berhasil
salah satunya mampu membangun komunitas baca atau melahirkan
komunitas-komunitas yang terkait dengan dunia ilmu.
Adapun yang menjadi critical point sebuah penerbit adalah: - quantity
--> yaitu seberapa banyak judul yang bisa dihasilkan oleh penerbit
atau seberapa banyak buku berpotensi best seller yang bisa digarap oleh
penerbit.
- quality --> yaitu seberapa tinggi kualitas terbitan yang bisa dicapai
oleh sebuah penerbit, seperti kualitas editing, kualitas pengemasan, dan kualitas cetak.
- quick
--> seberapa cepat penerbit bisa menghasilkan buku yang benar-benar
siap untuk dibaca dan diapresiasi oleh pembaca sasarannya.
Banyak
cara untuk menjadi penerbit powerful dan ini termasuk ke dalam seni
bisnis. Yang bisa menggerakkan powerful itu (menurut saya) kalau sebuah
penerbit bisa fokus, mencintai dunia perbukuan atau profesinya, dan
adaptif terhadap perubahan serta perkembangan ilmu yang terjadi pada
masyarakat. written by Bambang Trim <praktisi dunia buku; mendalami editologi dan publishing science sejak 1991>
Oleh : Nasrullah Idris
(Reformasi Sains Matematika Teknologi)
Ada sebuah sistim belajar membaca yang sangat
praktis serta membuat murid bisa membaca dalam tempo relatif singkat, yakni
dengan sistim A-I-U-E-O (sistim mengeja sintetis). Murid dituntut untuk mengeja
secara sintetis, yakni menghubungkan antara kata yang dibaca dengan lidah/mulut
yang dibentuk. Karena saat murid belajar membaca, lidah/mulut mereka bergoyang.
perhatikanlah kiatnya yang berkesinambungan berikut ini
: *) Menyebut A-I-U-E-O dengan urutan tetap,
sebagaimana biasanya menyebut 11-12-13-14-15. Aturan ini jangan dirubah selama
proses belajar. Tiada lain untuk mempercepat murid untuk segera bisa
membaca. *) Mengaitkan setiap Huruf Hidup (HH)
dengan setiap Huruf Mati (HM), baik HH dulu (seperti AS) maupun HM dulu (seperti
SA). Untuk S, contohnya, bila murid sudah reflek
menyebut A-I-U-E- O, ia pun akan mudah mengeja :
SA-SI-SU-SE-SO. Bila ditinjau dari Aritmatika,
tampak mirip dengan hubungan 1- 2-3-4-5 dan 41-42-43-44-45. Mulut si murid
mulanya disuruh berdesis, SSSSS ....., kemudian menganga sampai bersuara SA,
sehingga langsung meneruskan menyebut SI-SU-SE-SO.
Demikian pun untuk R, contohnya. Mulut murid disuruh bergetar, RRRRR ......,
kemudian menganga sampai bersuara RA, sehingga langsung meneruskan menyebut
RI-RU-RE-RO. Bagaimana dengan AR-IR-UR-ER-OR?.
Mulanya mulut si murid menganga, AAAAA ....., kemudian bergetar sampai bersuara
AR, sehingga langsung meneruskan menyebut
AR-IR-UR-ER-OR. Demikian pun untuk AS-IS-US-ES-OS
! *) Menyuruh murid memahami mulut saat menyebut A
(nganga), I (biasa), U (manyun), E (gepeng), dan O (bundar). Ini untuk
meyakinkan mereka bahwa bagaimana pun perbedaan HM, tetapi bila masing-masing
digabungkan dengan HH yang sama, ya ... maka saat dieja akan menampakkan pola
mulut yang sama, seperti RA dengan SA (nganga) atau DU dengan GU
(manyun). *) Mengeja. Untuk sementara, biarlah
jangan dengan kata yang mengandung dua HM, seperti NY, NG, KH, dan SY. Tetapi
dengan kata yang HM dan HH yang sama banyak dengan posisi selang-seling, seperti
SUKA, BOLA, MUKA, dan DESA. Untuk RANI, contohnya,
mulut murid mulanya disuruh bergetar, RRRRR....., kemudian menganga, NAAAAA
...., kemudian berdenging, RANNNNN ....., kemudian membiasa, RANIIIII .....,
akhirnya RANI. Demikian pun untuk UBAN, contohnya,
mulanya murid disuruh memeanyun, kemudian memberebab, UBBBBB....., kemudian
menganga, UBA....., kemudian berdenging, UBANNNNN ....., akhirnya
UBAN. ****** Bila semua
sudah dipahami, optimislah anda bahwa dalam waktu relatif singkat, ia akan bisa
membaca, termasuk berbagai kata yang mengandung dua HM, seperti SYARAT, NYONYA,
KHUSUS, dan NGANGA, malah bisa segera menulis. Selamat dipraktekkan kepada murid
! Moga-moga saja sip !
AGAR PERPUSTAKAAN TAK JADI KUBURAN
Penulis: Hernowo
Perpustakaan, dari
zaman ke zaman, adalah "nyawa" kehidupan sebuah peradaban. Tidak ada peradaban
di dunia yang berkembang dan terus membaik tanpa bermodalkan buku. Perpustakaan
adalah juga jantung kegiatan pendidikan. Tidak ada sekolah yang berhasil
melahirkan para lulusan dengan prestasi hebat tanpa buku. Betapa pentingnya
mendirikan rumah
Pertanyaannya,
apakah cukup hanya mendirikan bangunan fisik sebuah perpustakaan dan kemudian
mengisinya dengan buku-buku bermutu? Untuk langkah awal, tentu, pendirian
bangunan fisik amat perlu. Hanya, setelah bangunan berdiri, sebuah perpustakaan
sangat layak untuk menjaga keberadaannya dengan kegiatan-kegiatan yang
menggairahkan berkaitan dengan buku.
Menarik minat masyarakat untuk membaca pada zaman sekarang bukanlah
pekerjaan mudah. Ada banyak "musuh" kegiatan membaca yang telah menyebar dan
mengakar di tengah masyarakat. Kita bisa menyebut televisi--meskipun telah
berjasa memberikan hiburan selama 24 jam full--sebagai salah
satu "musuh" terbesar itu.
Namun, akan sangat membuang energi apabila kita hanya menyalahkan
"musuh-musuh" kegiatan membaca. Alangkah bagusnya apabila energi yang kita
miliki, kita coba gunakan untuk mencari sesuatu yang dapat membantu para
pengelola perpustakaan, atau pihak-pihak lain yang concern
terhadap bangkitnya minat membaca di masyarakat, agar lebih termotivasi untuk
terus mau dan mampu "menghidupkan" perpustakaan hingga akhir
zaman.
Berikut adalah beberapa usulan saya yang semoga dapat memberikan
alternatif untuk "menghidupkan" perpustakaan. Usulan ini tentu bukan usulan
final. Ini merupakan usulan yang dapat dipilih dan dipertimbangkan sesuai
kemampuan dan ketersediaan dana yang ada. Saya sengaja mengurutkan usulan saya
ini dari yang paling mudah ke yang, mungkin, paling sulit dilaksanakan. Semoga
bermanfaat.
1. Menempel poster
orang-orang yang sukses lantaran kesuksesan itu mereka raih lewat membaca buku.
Bayangkan, di
sebuah perpustakaan terdapat foto atau gambar Buya Hamka, Soekarno, Deliar Noer,
Fuad Hassan, Nurcholish Madjid, Ratna Megawangi, atau tokoh-tokoh lain, yang
terpampang dengan jelas dan kemudian setiap orang yang melihat foto atau gambar
tersebut dapat memahami bahwa mereka sukses lantaran mereka menjalankan kegiatan
membaca buku.
2. Menempel poster
para penulis yang telah berhasil mewarnai dunia dengan karya-karya tulisnya.
Bayangkan
pula, di sebuah ruang perpustakaan yang kecil namun nyaman, para pengunjung
perpustakaan yang masih anak-anak dapat melihat sosok-hebat H.C. Andersen,
Al-Ghazali, Anne Frank, R.A. Kartini, Jalaluddin Rumi, Annemarie Schimmel,
Mohammad Hatta, J.K. Rowling, dan para penulis kondang lain, yang telah berjasa
menyebarkan ilmu lewat buku-buku karyanya.
3. Ada kegiatan
membaca dan menulis yang saling melengkapi dan
mendukung.
Bayangkan
pula, para pengunjung perpustakaan tidak hanya membaca buku namun juga
disediakan meja untuk menuliskan ide-idenya, gara-gara pikirannya berinteraksi
dengan pikiran para penulis buku yang dibacanya. Sebuah perpustakaan dapat
melahirkan para penulis, apakah mungkin?
4. Menyediakan bahan
bacaan yang lengkap, kaya, dan beragam, yang tak hanya buku.
Bayangkan,
apabila ada perpustakaan untuk anak-anak yang dapat menarik minat para orangtua,
paman dan bibi, dan anggota keluarga mereka yang lain untuk juga dapat
mendapatkan bahan-bahan bacaan yang bagus dan bermutu? Bayangkan, jika di
perpustakaan itu juga menyediakan bukan hanya buku tetapi publikasi lain,
seperti katalog, buletin, ataupun berita-berita ringan tentang perkembangan
teknologi informasi (komputer dan ponsel, misalnya)?
5. Ada teladan (role model) baca-tulis di perpustakaan yang dapat dilihat oleh
pengunjung perpustakaan setiap hari.
Bayangkan,
sebuah perpustakaan yang para pengelola perpustakaannya juga aktif membaca dan
menulis? Di papan pengumuman atau majalah dinding perpustakaan tertempel
tulisan-tulisan para pengelola perpustakaan yang mengabarkan tentang kehebatan
sebuah buku baru yang baru tiba?
6. Ada, sesekali,
pelatihan peningkatan keterampilan baca tulis untuk semua
kalangan.
Bayangkan,
apabila sesekali di sebuah ruang perpustakaan yang sempit diadakan pelatihan
peningkatan keterampilan membaca dan menulis? Bagaimana mengenali buku yang
bergizi, misalnya, dan bagaimana membaca dengan menggunakan keseluruhan komponen
otak dan indra, misalnya lagi?
7. Ada tokoh
masyarakat yang dihadirkan ke perpustakaan, dan tokoh itu memiliki minat dan
perhatian yang besar terhadap tumbuh-berkembangnya kegiatan baca tulis di
masyarakat luas.
Bayangkan, apabila proses
"menghidupkan" perpustakaan ini juga didukung dan melibatkan para tokoh
masyarakat, seperti lurah, camat, bupati, walikota, gubernur, pejabat negara,
para guru, dosen, pengusaha, public figure, dan para
selebriti? Bayangkan pula bahwa para tokoh masyarakat ini bukan hanya berdiri di
pinggiran dan menyaksikan kegiatan perpustakaan itu dari luar. Namun, mereka
benar-benar membenamkan diri dan memiliki jadwal khusus setiap minggu untuk ikut
membaca dan menulis di sebuah perpustakaan. Apa yang akan terjadi dengan
perpustakaan-perpustakaan kita apabila bayangan-bayangan itu mewujud
nyata?
Kiat Menulis Resensi Buku
sumber: Republika.co.id
Menulis resensi atau kritik buku sebenarnya nggak sulit. Kalau mau,
kamu juga bisa. Nah, berikut ini ada beberapa tips agar kamu piawai
menulis resensi.
* Tulisan resensi yang menggambarkan sinopsis harus sesuai dengan isi
buku. Banyak peserta yang terdaftar dalam kompetisi ini ternyata kurang
memahami isi buku sehingga sinopsis mereka berbeda dengan isi buku.
* Ketajaman analisa. Setelah memahami isi buku, kamu harus bisa menilai
apakah isi buku bermanfaat atau tidak ? Jika memang bagus, beri
penjelasan di mana letak sisi bagus itu. Begitu pun sebaliknya. Di samping
itu, kamu harus pula menguasai pengetahuan lain sebagai bahan pembanding
isi buku yang hendak kamu kritisi itu, termasuk di dalamnya menyikapi
masalah yang ditampilkan buku tersebut.
Asal kamu tahu, prosentase terbesar kriteria penilaian ada pada
ketajaman analisa. Di sini, kamu harus bisa mengaitkan masalah lain yang ada
dengan masalah yang diangkat buku itu. Dari sini, gagasan kamu dan isi
buku mengenai masalah yang sama, bisa bertemu. Tentu saja kamu bisa
mengungkapkan ketidaksetujuan atas gagasan penulis buku yang bersangkutan.
Pada saat yang sama, kamu juga harus menawarkan argumen untuk mendukung
pendapatmu.
* Gunakan bahasa yang terstruktur, lugas, dan jelas sehingga memudahkan
pembaca memahami maksud kamu. Melalui bahasa semacam itu, kamu bisa
menulis ulang isi atau materi yang terkandung dalam buku, kemudian
mengkritisi isinya jika ada yang dinilai kurang tepat. Selain itu, penulis
resensi juga harus memiliki kemampuan memahami isi buku secara benar.
* Terakhir, hindari penggunaan kalimat yang panjang dan bertele-tele.
Kalimat panjang bisa mengaburkan pesan yang akan disampaikan. Jangan
lupa, pilih kata-kata yang tepat untuk merangkai tulisan resensimu. Dengan
cara ini, niscaya pembaca akan gampang memahami maksud kamu. Tidak
sulit, kan? Oke deh, selamat mencoba. berbagai sumber/cho
MEMBACA DENGAN EFEKTIF
Oleh: Roy Sembel
Salah satu unsur penting dalam Manajemen Diri adalah membangun
kebiasaan untuk
terus menerus belajar atau menjadi manusia pembelajar yang senantiasa
haus akan
informasi dan pengetahuan.
Hal ini seperti yang dikatakan oleh Henry Ford, pendiri General Motors
yang
mengatakan bahwa "Anyone who stops learning is old, whether at twenty
or eighty.
Anyone who keeps learning stays young. The greatest thing in life is to
keep
your mind young."
Tidak peduli berapapun usia kita, jika kita berhenti belajar berarti
kita sudah
tua, sedangkan jika senantiasa belajar kita akan tetap awet muda.
Karena hal
yang terbaik di dunia akan kita peroleh dengan memelihara pikiran kita
agar
tetap muda.
Salah satu cara paling efektif untuk belajar adalah dengan membaca.
Namun
sayangnya sebagian besar kita tidak pernah punya waktu untuk membaca.
Alasan
utama yang sering kita sampaikan adalah kesibukan pekerjaan. Kita
terjebak dalam
rutinitas dan tekanan pekerjaan sehingga tidak memiliki kesempatan
untuk
mengasah gergaji kita, seperti yang diceritakan oleh Stephen Covey
dalam bukunya
"The 7 Habits of Highly Effective People" sebagai berikut:
Andaikan saja anda bertemu seseorang yang sedang terburu-buru menebang
sebatang
pohon di hutan.
"Apa yang sedang anda kerjakan? Anda bertanya.
"Tidak dapatkah anda melihat?" demikian jawabnya dengan tidak sabar.
"Saya
sedang menggergaji pohon ini."
"Anda kelihatan letih!" anda berseru. "Berapa lama anda sudah
mengerjakannya?"
"Lebih dari lima jam," jawabnya, " dan saya sudah lelah! Ini
benar-benar kerja
keras."
"Nah, mengapa anda tidak beristirahat saja beberapa menit dan mengasah
gergaji
itu?" anda bertanya. "Saya yakin anda akan dapat bekerja jauh lebih
cepat."
"Saya tidak punya waktu untuk mengasah gergaji," orang itu berkata
dengan tegas.
"Saya terlalu sibuk menggergaji."
Bahkan menurut Covey, kebiasaan mengasah gergaji merupakan kebiasaan
yang paling
penting karena melingkupi kebiasaan-kebiasaan lain pada paradigma tujuh
kebiasaan manusia efektif. Kebiasaan ini memelihara dan meningkatkan
aset
terbesar yang kita miliki yaitu diri kita. Kebiasaan ini dapat
memperbarui
keempat dimensi alamiah kita – fisik, mental, spiritual, dan
sosial/emosional.
Membaca merupakan salah cara kita untuk memperbaiki dan meningkatkan
efektifitas
diri kita. Meskipun kita memiliki "keterbatasan waktu", kita tetap
perlu
mengasah gergaji kita. Caranya adalah dengan menguasai cara membaca
yang efektif
sehingga waktu yang kita gunakan menjadi efisien.
Namun sebelumnya kita perlu mengenali berbagai tipe gaya belajar
seseorang,
yaitu:
a. Visual.
Belajar melalui melihat sesuatu. Kita suka melihat gambar atau diagram.
Kita
suka pertunjukan, peragaan atau menyaksikan video.
b. Auditori.
Belajar melalui mendengar sesuatu. Kita suka mendengarkan kaset audio,
ceramah
kuliah, diskusi, debat dan instruksi verbal.
c. Kinestetik.
Belajar melalui aktivitas fisik dan keterlibatan langsung. Kita suka
"menangani", bergerak, menyentuh dan merasakan/mangalami sendiri.
Semua kita, dalam beberapa hal, memanfaatkan ketiga gaya tersebut.
Tetapi
kebanyakan orang menunjukkan kelebihsukaan dan kecenderungan pada satu
gaya
belajar tertentu dibandingkan dua gaya lainnya. Pada anak-anak
kecenderungannya
adalah pada kinestetik dan auditori, namun pada saat mereka dewasa,
kelebihsukaan pada gaya belajar visual ternyata lebih mendominasi.
Memahami gaya belajar pribadi anda akan dapat meningkatkan kinerja dan
prestasi
anda. Anda akan mampu menyerap informasi lebih cepat dan mudah. Anda
dapat
mengidentifikasi dan mengapresiasi cara yang paling anda sukai untuk
menerima
informasi. Anda akan bisa berkomunikasi jauh lebih efektif dengan orang
lain dan
memperkuat pergaulan anda dengan mereka.
Tiga Faktor Penting Meningkatkan Kemampuan Belajar
Ada tiga faktor penting dalam penguasaan ketrampilan untuk belajar:
pertama adalah pola pikir dan sikap (mindset and attitude) kita
terhadap
belajar.
Kita harus memiliki hasrat (desire) dan kecintaan (passion) yang dalam
terhadap
nilai-nilai untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Belajar tidak
hanya
sekedar melalui pendidikan formal semata, tetapi dalam setiap aspek
kehidupan
kita harus senantiasa mengembangkan sikap belajar. Sikap mau membaca,
mendengar,
mau mengerti dan mau belajar dari orang lain merupakan sikap yang perlu
senantiasa dikembangkan jika kita ingin memperbaiki diri ataupun
gagasan kita.
Faktor kedua dalam meningkatkan ketrampilan untuk belajar adalah
kemampuan kita
untuk mendayagunakan kekuatan pikiran kita (terutama pikiran bawah
sadar –
subconscious mind) untuk mempercepat proses belajar (accelerated
learning).
Pikiran bawah sadar merupakan kekuatan yang luar biasa jika kita dapat
mengoptimalkan potensinya. Seringkali kita melupakan bahwa anugerah
yang
terindah dan terbesar yang diberikan Tuhan kepada kita adalah kemampuan
pikiran
kita. Hal inilah yang membedakan kita dengan ciptaanNya yang lain.
Hal yang paling mudah kita lakukan untuk mengembangkan ketrampilan
untuk belajar
adalah dengan banyak membaca. Meluangkan waktu sedikitnya satu jam
sehari untuk
membaca buku merupakan kebiasaan yang baik bagi kita untuk mulai
mengembangkan
diri kita.
Banyak sekali metoda untuk meningkatkan kecepatan membaca (speed
reading) maupun
pemahaman (comprehension) terhadap isi dari suatu buku. Ketrampilan
inilah yang
amat kita perlukan untuk meningkatkan daya serap dan kecepatan kita
dalam
membaca sebuah buku. Selain membaca, meningkatkan kemampuan dapat
diperoleh
melalui seminar, pelatihan maupun mendengarkan kaset-kaset motivasi.
Faktor ketiga dalam meningkatkan kemampuan belajar kita adalah disiplin
diri dan
kegigihan (self discipline and persistence).
Tanpa kedua hal ini maka belajar hanyalah kegiatan yang sifatnya
tergantung
suasana hati (mood) dan kita tidak dapat mencapai keunggulan
(excelence) hanya
dengan belajar setengah hati. Sudah saatnya kita mengubah
kebiasaan-kebiasaan
kita.
Ada pepatah yang mengatakan "Your Habits will Determine Your Future.
Miliki
kebiasaan belajar, dan mulai langkah pertama anda. Proses mengubah
kebiasaan
sangat ditentukan oleh kedisiplinan diri dan kegigihan kita, sehingga
setelah
melakukannya dalam periode waktu tertentu, hal tersebut tidak lagi
menjadi beban
tetapi telah menjadi kebutuhan. Jika pada awalnya sulit melakukan
tetapi setelah
itu anda jadi terbiasa.
Ketrampilan Dasar untuk Membaca yang Efektif.
Sebelum kita mengembangkan kemampuan membaca dengan efektif, kita perlu
menguasai terlebih dulu beberapa ketrampilan dasar, yaitu:
1. Konsentrasi
Kebanyakan kita menganggap bahwa konsentrasi adalah pekerjaan berat dan
sangat
sulit dilakukan. Kita memiliki suatu keyakinan bahwa hal tersebut susah
untuk
dilakukan. Padahal kalau kita menyenangi sesuatu, katakanlah menonton
konser
musik band favorit kita atau film di bioskop, maka kita akan dapat
berkonsentrasi menikmati pertunjukan yang berlangsung lebih dari dua
jam. Kita
ternyata dapat berkonsentrasi cukup lama jika kita melakukan sesuatu
yang kita
senangi. Inilah pola pikir pertama yang harus kita kembangkan untuk
belajar
berkonsentrasi.
Hal yang kedua adalah bahwa mengembangkan daya konsentrasi sama halnya
dengan
mengembangkan dan menguatkan otot-otot tubuh kita. Kita perlu latihan
yang
teratur dan terus menerus. Salah satu teknik untuk mengembangkan daya
konsentrasi adalah teknik kontemplasi. Kontemplasi adalah suatu teknik
menggunakan pikiran kita seperti sebuah lampu senter (searchlight)
untuk mencari
dan menemukan informasi baru. Untuk melatihnya, anda perlu lakukan
setiap hari
(sedikitnya 5 menit sampai maksimum 10 menit per latihan). Caranya
dimulai
dengan fokus terhadap apa yang ingin kita ketahui. Misal, kita ingin
mengetahui
cara meningkatkan kecerdasan finansial (membaca buku Robert Kiyosaki
misalnya),
kemudian pikirkan gagasan tersebut secara mendalam dan tanyakan pada
diri anda
pertanyaan-pertanyaan seperti, "Apa artinya kecerdasan finansial? Apa
implikasinya pada hidup saya? Apakah hal tersebut bisa saya lakukan?
Dan
seterusnya lakukan sampai sekitar 5-10 menit.
Jika anda sudah bisa bertahan konsentrasi 10 menit, tingkatkan
kemampuan anda
dengan berlatih langsung membaca sebuah buku 10-20 menit. Lakukan
setiap hari
sampai daya tahan konsentrasi anda meningkat sedikit demi sedikit.
2. Membuat Peta Pikiran (Mind Mapping)
Teknik ini merupakan cara untuk meringkas suatu tema atau pokok pikiran
yang ada
dalam buku.
Pertama, kita awali dengan menuliskan tema pokok di tengah-tengah
halaman kertas
kosong.
Kemudian seperti pohon dengan cabang dan ranting kita kembangkan tema
pokok
menjadi sub tema di sekelilingnya dengan dihubungkan memakai garis
seperti
jari-jari roda.
Berikut adalah langkah atau prinsip dalam membuat peta pikiran dalam
buku
Accelerated Learning for the 21st Century karangan Colin Rose dan
Malcolm J.
Nicholl:
a. Mulai dengan topik di tengah-tengah halaman.
b. Gunakan kata-kata kunci.
c. Buatlah cabang-cabangnya
d. Gunakan simbol, warna, kata, gambar dan citra (images) lainnya.
e. Gunakan seperti poster dengan dasar putih bersih.
f. Buat tulisan atau gambarnya warna warni
g. Gunakan alat tulis berwarna terang
Membuat peta pikiran adalah latihan yang perlu dilakukan terus menerus.
Sama
halnya seperti teknik kontemplasi, kita perlu berlatih mengunakan peta
pikiran
untuk mengetahui informasi atau menganalisa masalah.
[Bisa juga melihat di Gua Kalong, bagian Peta Konsep dan Otak]
3. Relaksasi
Cara ini dikembangkan oleh Sandy MacGregor dalam bukunya Piece of Mind.
Pada
prinsipnya dikatakan bahwa otak atau pikiran kita lebih mudah menyerap
dan
mengingat informasi pada saat kondisi pikiran kita relaks yang
ditunjukkan
dengan frekuensi gelombang otak yang rendah. Mengenai teknik relaksasi
pernah
dibahas dalam edisi Mandiri sebelumnya. Bagi anda yang berminat
mempelajari
dapat membaca buku Sandy MacGregor tersebut atau buku SELF MANAGEMENT:
12
Langkah Manajemen Diri karangan Aribowo Prijosaksono dan Marlan
Mardianto.
Teknik Membaca Cepat
Kita hidup dalam zaman di mana kita setiap hari dibanjiri buku baru
tentang
topik yang kita sukai atau yang berkaitan dengan bidang pekerjaan kita.
Pembaca
biasa takkan bisa membaca semua buku yang telah diterbitkan tentang
topik yang
berkaitan dengan bidang bisnis atau profesionalnya.
Sedangkan membaca itu sendiri bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan
sekaligus menjengkelkan. Padahal kita semua tahu bahwa membaca sama
halnya
dengan kita menikmati pertunjukan konser atau film yang bagus. Membaca
melibatkan partisipasi aktif kita. Seluruh emosi, hasrat dan minat kita
juga
harus terlibat dalam proses membaca, sehingga membaca menjadi
pengalaman yang
menyenangkan.
Dengan keterbatasan waktu yang kita miliki, bagaimana kita dapat
mengembangkan
kemampuan membaca secara efektif sehingga dengan tenggang waktu yang
sama, kita
bisa mengambil inti dari lebih banyak buku. Kecuali untuk buku fiksi
atau sastra
yang memang ingin kita nikmati jalinan cerita, emosi, dan rangkaian
kata-katanya, membaca buku nonfiksi (textbook) adalah seperti membaca
surat
kabar. Yang kita perlukan adalah informasi dan gagasan pokok pengarang.
Hanya sedikit orang yang membaca koran dengan cara per bagian, halaman
per
halaman. Kita biasanya membaca beberapa halaman pertama dengan
mendetail, lalu
hanya sekilas membaca yang lain, mencari topik yang menarik. Sekarang
kita akan
belajar melakukan hal yang serupa dengan buku yang akan kita baca.
Sebelum mulai membaca ada sejumlah alat bantu yang dapat membantu kita
untuk
dapat memahami keseluruhan isi sebuah buku:
Sampul buku:
Biasanya pokok pikiran terpenting dari sebuah buku tercetak di
sampulnya.
Informasi ini membantu penjualan buku dan memberikan perspektif
penerbit tentang
isi buku. Sampul buku memberikan gambaran kepada kita tentang apa yang
akan kita
dapatkan di bagian dalam.
Biografi penulis:
Informasi ini akan memberi tahu kita tentang latar belakang pendidikan,
pengalaman dan kegiatan penulis saat ini yang membuat ia bisa menulis
buku
tersebut. Dengan memahami informasi tentang penulis akan membantu kita
untuk
lebih mudah mengikuti alur pemikirannya dalam buku tersebut.
Bagian awal:
Bagian ini terdiri atas kata pengantar, prakata, atau bab pendahuluan
(prolog).
Biasanya justru bagian-bagian ini yang perlu secara mendalam kita
pelajari,
karena intisari seluruh gagasan penulis tentang tema buku tersebut
terangkum
dalam bagian awal buku. Yang jelas bagian ini memaparkan tujuan
penulisan –
pernyataan misinya. Pada titik ini kita bisa memutuskan untuk membaca
lebih
lanjut atau kita hanya akan menggunakannya untuk referensi.
Daftar Isi:
Sebenarnya bagian ini adalah kerangka buku. Penulis menggunakan
masing-masing
topik bab sebagai gantungan untuk menjelaskan keseluruhan pemikirannya
tentang
topik tertentu. Ada berapa bagian? Berapa bab? Bacalah Daftar Isi
dengan teliti
untuk melihat apakah topik-topiknya sesuai dengan apa yang kita cari.
Indeks:
Teliti indeks di bagian belakang buku. Lihat apakah ada kata-kata kunci
yang
menarik bagi anda.
Kita harus memeriksa semua hal tersebut sebelum membaca bukunya. Inilah
yang
disebut dengan proses scanning, yaitu kita melihat secara selintas
keseluruhan
isi dari buku yang akan kita baca. Begitu mulai membaca, kita bisa
bebas
melompati materi yang sudah kita ketahui atau materi yang tidak kita
minati.
Pada bagian tertentu kita bisa mendalami karena ada topik atau
informasi yang
harus kita cermati dan kita cerna lebih dalam. Proses ini disebut
dengan proses
skimming.
Berikut adalah hal-hal yang perlu untuk membaca dengan efektif:
1. Setelah melakukan proses scanning, kita dapat membuat peta pikiran
(mind
charting) buku tersebut.
Tidak usah terlalu detil, tetapi cukup informatif untuk menjelaskan isi
buku
dalam satu halaman kertas. Kalau perlu kita lakukan rekonstruksi
terhadap daftar
isi digabung dengan informasi lain dari biografi, kata pengantar,
pendahuluan
dan sinopsis di sampul buku tersebut.
2. Siapkan stabilo atau alat tulis untuk menandai informasi atau apa
saja yang
ingin kita ingat.
3. Pahami jalan pikiran penulis.
Semakin cepat kita mengetahui topik, tujuan, pokok masalah materi yang
kita
baca, semakin baik pemahaman dan ingatan kita akan hal itu.
4. Hindari baca kata per kata dan kalimat per kalimat.
Coba tangkap sekelompok kata dengan mata anda setiap kali
menggerakkannya.Apalagi untuk buku berbahasa asing, kita tidak perlu
menterjemahkannnya kata demi kata, karena akan menghambat proses
penyerapan
informasi dalam otak anda.
Bandingkan anda membaca dengan bersuara dan membaca dalam hati.
Kecepatannya
akan berbeda jauh.
Biasanya saya berkonsentrasi pada kalimat pertama dan kalimat terakhir
dari
sebuah paragraf, atau mata saya melihat seluruh badan paragraf dan
menangkap
pesan intinya.
5. Buatlah ringkasan sambil membaca.
Jika tak ada ringkasan bab, buatlah sendiri setiap selesai membaca satu
bab.
6. Bandingkan dengan tulisan lain bertopik sama yang pernah anda baca.
Ingat teknik kontemplasi. Cobalah mengembangkan pertanyaan-pertanyaan
dan kaitan
satu sama lain seperti anda mencari sesuatu dengan senter.
7. Untuk mempermudah kita menggunakan buku tersebut sebagai referensi,
kita bisa
mencatat isi buku tersebut dalam sebuah buku catatan atau kertas khsusu
yang
dapat kita simpan dan kita lihat kembali setiap saat.
Demikianlah prinsip-prinsip dan langkah-langkah yang perlu kita ketahui
untuk
meningkatkan efisiensi membaca. Namun sekali lagi, sama seperti
ketrampilan yang
lain, membaca memerlukan jam terbang. Kita perlu berlatih, berlatih dan
berlatih
sehingga kecepatan dan efisiensi membaca kita meningkat dari waktu ke
waktu.
Selamat membaca dan meningkatkan aset pribadi anda yang paling penting,
diri
anda sendiri.
10 Cara Atasi Tumpukan Bacaan Yang Harus Dibaca
Apakah bahan bacaan Anda begitu banyak sehingga sudah menggunung? Jika
begitu,
sekarang waktunya untuk mengatasinya.
Berikut ini adalah 10 cara untuk melakukannya.
1.Beri tanda highlighter
Jika membaca koran atau majalah, bacalah dengan memakai Highlighter.
Bacalah
dulu secara sepintas lalu seluruh halamannya dan tandai semua judul
yang menarik
perhatian Anda. Kemudian kembali dari awal dan baca hanya artikel yang
Anda
sudah beri tanda.
2.Sobeklah
Jika Anda tidak mempunyai waktu saat ini untuk membaca artikel yang
sudah Anda
beri tanda, sobeklah halamannya dan tentukan waktu untuk membacanya
nanti.
Dengan cara ini, Anda tidak perlu lagi mencarinya di seluruh koran atau
majalah
Anda. Lagipula Anda tidak perlu menyimpan koran atau majalah yang tidak
diperlukan lagi.
3.Pakailah Kartu Indeks
Jika membaca buku, gunakan kartu indeks untuk mengingat bagian yang
Anda anggap
penting. Di dalam kartu itu dicantumkan nomor halaman, bagian di
halaman itu
(A=Atas, T=Tengah, B=Bawah) dan satu atau dua kata yang membantu Anda
untuk
mengingat hal yang menarik perhatian Anda. Dengan demikian Anda tidak
perlu
membuang waktu untuk mencarinya di seluruh bagian buku tersebut.
4.Membaca Cepat
Jika Anda mempunyai begitu banyak informasi yang harus Anda simpan,
Anda mungkin
harus mengambil kursus Membaca Cepat. Atau anda dapat mencari buku
mengenai hal
itu, dan melatihnya sendiri.
5.Tentukan Waktu Untuk Membaca
Tentukan tanggal dan waktu untuk membaca. Atau gunakan 15 menit setiap
hari
untuk membaca, dan catatlah waktu ini di kalender Anda. Ingatlah janji
ini,
seperti juga janji untuk mengerjakan hal lain. Dengan demikian, membaca
akan
menjadi bagian dari rutinitas Anda.
6.Hindari Kekacauan
Karena koran berisi kejadian terakhir, koran kemarin berisi berita yang
sudah
basi. Majalah hanya berlaku 1-2 bulan. Singkirkan koran dan majalah
yang lama!
7.Buatlah File 'Untuk Dibaca'
Bualah map khusus atau kerjangjang dengan tanda 'UNTUK DIBACA' untuk
menyimpan
seluruh bachan bacaan Anda. Akan lebih mduah untuk melihat berapa
banyak yang
harus Anda baca jika semuanya disimpan di satu tempat, daripada
tersebar di
seluruh rumah atau kantor Anda.
8.Cobalah Realistis
Jika bahan bacaan Anda sudah terlihat menggunung, mungkin Anda mencoba
untuk
mengerjakan terlalu banyak. Banyak orang yang terlalu ambisius dalam
menentukan
berapa banyak waktu yang mereka dapat pakai untuk membaca. Jangan
biarkan bahan
bacaan Anda melebihi tempat penyimpanannya. Jika begitu, sudah waktunya
untuk
menyimgkirkan yang tak berguna.
9.Bawalah Bacaan Bersama Anda
Jika Anda merencanakan untuk pergi seharian, bawalah beberapa bahan
bacaan Anda.
Jadi, jika Anda mempunyai kesempatan, Anda bisa dengan mudah
membacanya.
Misalnya jika menunggu seseorang di kantor, sedang di kendaraan dalam
perjalanan, atau sedang antri di kounter.
10.Sumbangkan
Apakah Anda mempunyai buku atau majalah yang sudah tidak terpakai lagi?
Anda
dapat menyumbangkannya ke perpustakaan atau menjual ke tokok buku
bekas.
Perpustakaan setempat juga akan senang mendapat sumbangan majalah
bekas.
Seri Peningkatan Kualitas
Pembelajaran TIUI – Beberapa Strategi Membaca
Departemen Teknik Industri –
Universitas Indonesia
Tips
Membaca Secara Efektif
Banyak sekali yang harus dibaca
Daftar bacaan yang panjang untuk suatu mata kuliah atau untuk
keperluan menyusun esai dapat menjadi menakutkan, khususnya apabila topik yang
dibahas tidak familiar. Hal yang terasa mustahil dapat menjadi mungkin ketika anda
mulai bertanya kepada diri sendiri apa saja yang perlu diketahui, dan kemudian
memilih bacaan yang relevan dengan pertanyaan-pertanyaan anda.
Untuk apa anda membaca?
Membaca memiliki banyak tujuan, dan ada banyak cara untuk
membaca:
Untuk mengetahui lokasi suatu
informasi yang spesifik; ini dilakukan dengan cara membaca semua bagian dengan
cepat (skimming) sampai anda mendapatkan apa yang anda inginkan. Contoh: Ketika
membaca koran, orang-orang biasanya memilih-milih artikel untuk kemudian baru dibaca.
Untuk memahami alasan-alasan dan
fakta-fakta; untuk mempelajari sesuatu hal artinya anda harus membaca dengan
lambat dan berhati-hati.
Untuk menikmati kata-kata dan
penjelasan, seperti pada puisi dan prosa; ini dilakukan dengan membaca secara
lambat, bahkan berulang-ulang, untuk mendapatkan rasa dan gambaran yang jelas
sebuah adegan.
Untuk membaca novel dengan cepat,
anda mungkin melewati bagian-bagian yang membosankan dan mengambil detail yang
cukup untuk melihat bagaimana sesuatu terjadi dan kemudian berakhir; ini
dilakukan dengan melakukan skimming dan kemudian fokus kepada bagian
tertentu.
Bagaimana anda membaca tergantung pada tujuan anda
Untuk sebagian orang, perkuliahan
membutuhkan banyak sekali aktivitas membaca, dan kemampuan baru perlu
dipelajari untuk mengatasi beban tersebut.
Jarang sekali anda diharuskan untuk
membaca semua referensi.
Jika bahasan yang dibaca terasa
sulit, jangan ragu untuk bertanya pada pengajar untuk meminta bantuan.
Sebagian besar tujuan dari aktivitas
membaca anda adalah untuk mencari informasi yang berhubungan dengan suatu tugas
atau materi perkuliahan.
Di universitas anda akan dituntut membaca untuk:
Perkuliahan: Anda diharuskan untuk
membaca terlebih dahulu sebelum suatu perkuliahan agar anda familiar dengan
topik yang akan diajarkan.
Tutorials atau diskusi: Tutorial
biasanya dilakukan berdasarkan suatu set bahan bacaan. Jika anda tidak membaca
bahan bacaan tersebut maka anda tidak dapat berpartisipasi dalam diskusi.
Tugas kuliah: Anda tidak akan dapat
menyelesaikan tugas anda apabila anda belum membaca materi yang
dibutuhkan.
MULAILAH DENGAN PERTANYAAN-PERTANYAAN BERIKUT...
Apa yang anda ketahui tentang topik bacaan?
Bicarakan pendapat atau pikiran anda
dengan orang lain.
Tuliskan apa yang anda ketahui.
Buatlah diagram keterkaitan yang
menghubungkan pikiran-pikiran anda.
Seberapa tertarikkah anda terhadap topik bacaan?
Konsentrasi akan mudah pecah apabila
anda tidak tertarik.
Apakah mungkin untuk memilih topik
lain yang lebih menarik?
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memahami bacaan?
Dapatkah anda menentukan waktu yang
dibutuhkan?
Apakah topik yang dibaca merupakan topik baru?
Mulailah dengan pendahuluan atau
pengenalan secara umum, misalnya dari ensiklopedia, dan bacalah dengan
lambat.
Tuliskan istilah-istilah baru yang
tercantum secara berulang-ulang. Pastikan anda mengerti artinya dan dapat
mengejanya dengan baik.
Carilah arti dari istilah-istilah
pada kamus atau buku referensi. Tuliskan artinya dalam kata-kata anda
sendiri.
Relevankah bacaan anda?
Pilihlah sebuah buku atau artikel dari daftar bacaan yang
memberikan gambaran umum dari topik anda. Tanyakan kepada diri sendiri apa yang
perlu anda ketahui. Tuliskan pertanyaan-pertanyaan anda tersebut sebagai
panduan anda ketika membaca.
1. Bacalah dahulu halaman daftar isi.
Apakah anda menemukan apa yang anda cari? Apakah timbul pertanyaan-pertanyaan
baru?
2. Bacalah halaman indeks di belakang
bacaan. Carilah kata-kata kunci atau nama yang anda perlukan untuk dibahas.
3. Baca bab pertama dengan cepat (skim).
Jika bab tersebut relevan dengan pertanyaan-pertanyaan anda; bacalah paragraf
awal dan akhir. Tanyakan kepada diri anda sendiri apa yang dituliskan oleh
penulis lalu bacalah kalimat utama dari tiap paragraf (biasanya pada awal atau
akhir paragraf).
Dengan melakukan hal di atas, anda dapat memperoleh
keseluruhan gambaran dari isi bacaan atau pendapat penulis, sehingga anda dapat
menilai seberapa relevan bacaan tersebut dengan topik yang akan anda bahas.
Anda mungkin perlu membaca dengan cepat (skim) beberapa buku untuk memutuskan apa
yang akan anda ambil dari tiap buku.
Untuk bibliografi anda:
Tuliskan nama penulis, judul, tempat
penerbitan, penerbit, dan tanggal sehingga memudahkan anda untuk mendapatkan
suatu buku untuk keperluan bibliografi anda.
Tuliskan nomor halaman dari catatan
atau kutipan yang anda ambil.
Seri Peningkatan Kualitas
Pembelajaran TIUI – Beberapa Strategi Membaca
Departemen Teknik Industri –
Universitas Indonesia
Beberapa Strategi Membaca
A. Active Reading (Membaca Aktif)
Membaca secara aktif sangat penting karena dapat meningkatkan
efektivitas ketika anda membaca.
1. Fokus pada pertanyaan
Bacalah dengan tujuan dalam pikiran anda. Anda harus memiliki
suatu hal yang akan anda cari sebelum anda mulai membaca. Selalu ingatkan diri
anda pertanyaan yang harus dijawab, hal ini akan mencegah anda untuk membaca
materi yang tidak relevan.
Cobalah untuk mengidentifikasi:
Pertanyaan-pertanyaan yang ingin anda
jawab
Definisi-definisi yang ingin anda
perjelas
Hipotesis-hipotesis yang ingin anda
uji
Bukti-bukti yang mendukung ide anda
2. Manfaatkan Daftar Isi dan Indeks
Penggunaan daftar isi dan indeks membuat anda dapat langsung
menuju pada informasi yang relevan. Hal tersebut dapat menghemat waktu dan
mendukung pendekatan yang lebih fokus. Gunakan catatan yang anda dapat dari
perkuliahan untuk mengidentifikasi kata-kata kunci pada daftar isi dan
indeks.
3. Previewing (Kilasan)
Bacalah secara sekilas materi anda dalam beberapa menit.
Jangan mencatat, jangan menggaris-bawahi, baca saja secara sekilas materi
tersebut. Baca secara sekilas dengan memikirkan tujuan anda membaca. Bacalah
secara sekilas materi anda dengan membaca bagian abstrak (pendahuluan), daftar
tujuan, judul, sub-judul, kesimpulan, dan pertanyaan-pertanyaan di akhir bab.
Perhatikan gambar-gambar, grafik, dan diagram dengan membaca keterangan
(caption) pada masing-masing gambar atau grafik. Sering kali akan lebih mudah
untuk memahami suatu ide apabila diekspresikan dengan gambar atau diagram.
Membaca secara sekilas akan memberikan anda gambaran umum suatu bab, artikel,
atau materi bacaan lainnya dan akan memberitahu anda arah dari materi
tersebut.
4. Skimming (Membaca cepat)
Membaca cepat atau skimming adalah proses untuk mengetahui
lokasi suatu informasi yang spesifik dari sejumlah materi bacaan. Anda mungkin
mencari definisi, hasil penelitian dari suatu penulis, kata kunci, dan lain
sebagainya. Anda dapat menggunakan jari dan mata anda untuk bergerak secara
cepat halaman demi halaman sampai anda menemukan bagian yang relevan. Kemudian
anda membaca dengan lebih lambat untuk membaca bagian yang relevan tersebut
secara menyeluruh. Carilah frase-frase seperti ”di sisi lain..”,
“kesimpulannya”, “Pokoknya..” dan ”akhirnya...” untuk membantu anda agar lebih
mudah dan cepat memahami argumen dan kesimpulan penulis. Skimming berbeda
dengan membaca secara menyeluruh dan hanya boleh dilakukan untuk menghemat
waktu untuk mencari lokasi suatu informasi.
5. Mencatat
Menulis catatan akan membantu anda untuk lebih fokus dan
membaca secara aktif.
Bersikap selektif dan jangan menulis
semua informasi. Jangan menjadi manusia fotokopi, kalau memang anda membutuhkan
seluruh kata maka fotokopi saja bacaan anda.
Identifikasi argumen mayor dan minor
serta bukti-bukti pendukung.
Berikan reaksi terhadap apa yang anda
baca (setuju, tidak setuju, atau suatu pertanyaan).
Pastikan anda tidak mencatat
berulang-ulang sebagai cara untuk memahami suatu permasalahan yang
kompleks.
Gunakan highlighter pens (stabilo)
dan tulis catatan di atas Post-it untuk membantu anda membaca secara lebih
aktif.
6. Membahas Catatan
Anda perlu untuk mengulas dan membahas catatan anda untuk
mengingat dan memposisikannya pada
perspektif dari esai. Pembahasan akan menunjukkan: Apakah anda telah menjawab
pertanyaan-pertanyaan; Apakah pertanyaan-pertanyaan anda relevan dengan tujuan
anda membaca; Identifikasi bagian-bagian yang lemah dan konsep-konsep yang
belum dipahami sepenuhnya.
B. Speed Reading
(Membaca Cepat)
Belajar untuk meningkatkan kecepatan baca anda dapat
menghemat waktu yang anda butuhkan untuk membaca, namun hal tersebut hanya
berguna apabila anda dapat mengerti dan mengingat apa yang anda baca sebanyak
yang anda butuhkan. Ada beberapa cara untuk meningkatkan kecepatan baca anda.
1. Memvariasikan kecepatan baca anda
Membaca secara efektif mencakup memvariasikan kecepatan baca
anda berdasarkan tujuan anda dan tingkat kesulitan materi yang anda baca.
|
Tujuan Anda
|
Materi Bacaan
|
Kecepatan
|
|
Pemanasan atau
pendahuluan
|
Kotak-kotak kutipan (quotes)
pada artikel
|
Cepat
|
|
Membaca gambaran umum
(overview) bab
|
Keseluruhan bab, khususnya
pendahuluan (introduction) dan kesimpulan
|
Cukup cepat
|
|
Identifikasi pokok pikiran
supaya anda dapat menjelaskannya kepada siswa lain
|
Keseluruhan bab
|
Lambat
|
|
Mengetahui lokasi informasi
yang spesifik
|
Bagian tertentu yang menarik
bagi anda
|
Cepat sampai anda menemukan
apa yang anda cari, lalu lambat ketika membaca bagian yang khusus tersebut.
|
|
Mendapatkan pemahaman yang
detail dan kritis terhadap suatu topik
|
Pengenalan (introduction)
sebuah bab
|
Perlahan dan secara
menyeluruh, serta menggaris-bawahi dan menulis catatan.
|
C. Critical Reading (Membaca Secara Kritis)
Konsep Membaca
Kritis merupakan cara untuk mencari suatu ide/pengertian dari suatu bahan
pustaka dengan cara tidak melihat suatu bahan pustaka/kalimat seperti yang
tercantum saja tetapi melihat apakah ada ide/pengertian lain. Hal ini biasanya
merupakan jawaban dari suatu tugas yang meminta pendapat anda terhadap suatu
tulisan atau ketika anda diminta untuk melakukan analisa.
Beberapa cara
pembandingan dibawah ini untuk membantu anda membaca secara kritis
Bandingkan Fakta dg Interpretasi Penulis
Tidak semua
tulisan adalah fakta bagi seorang pembaca kritis. Setiap tulisan merupakan cara
pandang penulis terhadap suatu subyek. Sehingga cara penulisan merupakan
A non-critical
reader might read a history book to learn the facts of the situation or to
discover an accepted interpretation of those events. A critical reader might
read the same work to appreciate how a particular perspective on the events and
a particular selection of facts can lead to particular understanding.
What a Text Says, Does, and Means: Reaching for an
Interpretation
Seorang
pembaca kritis tidak hanya puas dengan hanya membaca arti (says) dari sebuah
tulisan tetapi dengan mempertanyakan apakah yang diinginkan oleh tulisan
tersebut – does (Apakah menunjukkan contoh, berargumentasi bahwa pendapatanya
benar?, Mencari simpati?, Menunjukkan kontras untuk mengklatifikasikan suatu
pendapat? Kemudian di saat terakhir menyimpulkan maksud sesungguhnya dari
tulisan tersebut - means
* What a text says – restatement (dituliskan kembali)
* What a text does – description (dideskripsikan)
* What a text means – interpretation (diinterpretasi)
Goals of Critical Reading
Secara umum
tujuan membaca kritis adalah untuk
* mendapatkan tujuan dari penulis
* mendapatkan elemen-elemen penekanan dan
membujuk dari si penulis
* mendapatkan dimana penulis melakukan
bias
Membaca Kritis
tidak hanya membaca dengan hati-hati dan teliti, tetapi anda harus secara aktif
mencari pola dan menganalisa “bukti-bukti” dalam tulisan tersebut.
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ba’da tahmid wa shalawat. Perpustakaan Masjid LDK DKM Al Hurriyyah merupakan perpustakaan masjid yang lebih memfokuskan diri sebagai perpustakaan yang menyediakan buku-buku bacaan bernilai Islam, walaupun ada sebagaian koleksi yang bersifat umum. Keberadaannya akan sangat penting dalam memenuhi kebutuhan akan ilmu-ilmu keislaman dikalangan civitas IPB. Baik itu mahasiswa, dosen, ataupun masyarakat umum sekitar kampus.
Melalui surat ini kami bermaksud mengajukan usulan kerjasama untuk melakukan kegiatan bedah buku. Kegiatan ini dimaksudkan untuk lebih mengenalkan perpustakaan Al Hurriyyah, untuk menumbuhkan minat baca khususnya bacaan-bacaan islami di kalangan masyarakat dan untuk menyebarkan nilai-nilai keislaman yang ada pada sebuah buku.
Bagi penerbit yang berminat bias menghubungi kami agar bias membicarakan kesepakatan lebih lanjut.
Atas perhatian dan bantuannya kami ucapkan jazakumullah khairon katsiron. Semoga ALLAH SWT membalas dengan balasan yang lebih baik.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ba’da tahmid wa shalawat. Perpustakaan Masjid LDK DKM Al Hurriyyah merupakan perpustakaan masjid yang lebih memfokuskan diri sebagai perpustakaan yang menyediakan buku-buku bacaan bernilai Islam, walaupun ada sebagaian koleksi yang bersifat umum. Keberadaannya akan sangat penting dalam memenuhi kebutuhan akan ilmu-ilmu keislaman dikalangan civitas IPB. Baik itu mahasiswa, dosen, ataupun masyarakat umum sekitar kampus.
Untuk lebih meningkatkan peran dalam hal penyampaian nilai-nilai keislaman tersebut maka perpustakaan masjid LDK DKM al Hurriyyah bermaksud mengadakan kegiatan perbanyakan bahan pustaka. Mengigat kemajuan teknologi dan media saat ini maka bahan pustaka tersebut tidak hanya terbatas pada buku saja, tapi bisa juga berupa CD, majalah, tabloid, komik islami dan lainnya. Untuk itu kami bermaksud mengajak kepada berbagai pihak terkait untuk bersama-sama beramal dalam kegiatan ini. Kami sangat berharap bantuan dan sumbangan dari berbagai pihak untuk perbanyakan bahan pustaka ini, agar kehausan akan nilai-nilai Islam tersebut dapat terjawab.
Atas perhatian dan bantuannya kami ucapkan jazakumullah khairon katsiron. Semoga ALLAH SWT membalas dengan balasan yang lebih baik.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
| |