Perpustakaan Masjid DKM Al Hurriyyah IPB

Artikel

Blog EntryPerkembangan Percetakan di Dunia IslamFeb 10, '10 2:59 AM
for everyone

Pada masa Dinasti Fatimiyah, percetakan mulai mengalami perkembangan.

Pencetakan sebuah manuskrip memiliki sejarah panjang. Ini tak semata terkait dengan mesin cetak yang ditemukan Johannas Gutenberg. Namun, lebih memiliki kaitan dengan kegiatan percetakan yang telah dilakukan lama sebelumnya. Termasuk, perkembangannya di dunia Islam.

Menurut Dr Geoffrey Roper, seorang konsultan perpustakaan yang bekerja dengan Institute for the Study of Muslim Civilisations, London, Inggris, Gutenberg diakui sebagai orang pertama yang menemukan mesin cetak.

Namun, menurut Roper, aktivitas mencetak, yaitu membuat sejumlah salinan dari sebuah teks dengan memindahkannya dari satu permukaan ke permukaan lainnya, khususnya kertas, yang telah berusia lebih tua dibandingkan penemuan mesin cetak Gutenberg.

Orang-orang Cina telah melakukannya sekitar abad ke-4. Cetakan teks tertua yang diketahui berangka tahun 868 Masehi, yaitu Diamond Sutra. Ini merupakan sebuah terjemahan teks Buddha berbahasa Cina yang tersimpan di British Library.

Namun, hal yang tak banyak terekspos adalah sekitar 100 tahun kemudian, Arab Muslim juga memiliki kemampuan mencetak teks. Termasuk, lembaran Alquran. Ini berawal dari langkah Muslim untuk mempelajari kemampuan pembuatan kertas dari Cina.

Lalu, umat Islam mengembangkan kemampuan itu di seluruh wilayah Islam. Hal ini memicu tumbuh berkembangnya produksi manuskrip-manuskrip teks. Pada masa awal perkembangan kekuasaan Islam, manuskrip tak dibuat secara massal dan tak pula didistribusikan untuk masyarakat.

Kala itu, manuskrip yang ada berisikan penjelasan tentang shalat, doa-doa, intisari Alquran, dan asmaul husna yang sangat dikenal oleh Muslim. Apa pun tingkat sosialnya, baik Muslim yang kaya, miskin, terdidik, maupun berpendidikan rendah.

Kemudian, baru pada kekuasaan Dinasti Fatimiyah di Mesir, teknik cetak manuskrip di atas kertas berkembang. Mereka mencetak manuskrip secara massal. Kemudian, manuskrip-manuskrip hasil cetakan itu dibagikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sejumlah cetakan manuskrip itu ditemukan para arkeolog saat dilakukan penggalian di Fustat atau Kairo lama. Menurut Roper yang dikutip laman Muslimheritage, cetakan manuskrip tersebut diyakini berasal dari abad ke-10.

Cetakan manuskrip sejenis ditemukan juga di sejumlah tempat lainnya di Mesir. Rope mengungkapkan, iklim kering di Mesir telah membantu menyelamatkan manuskrip itu sehingga tak membuatnya menjadi rusak.

Pada periode kekuasaan Dinasti Mamluk, yang berlangsung pada abad ke-13 hingga abad ke-16, ditemukan sejumlah cetakan tulisan Arab dengan beragam gaya, di antaranya adalah Kufi. Perkembangan kegiatan percetakan di dunia Islam berlangsung hingga 500 tahun.

Sejumlah hasil cetak manuskrip yang dihasilkan di dunia Islam masih bertahan. Paling tidak, ada 60 sampel manuskrip yang tersisa dan tersebar di Eropa, museum dan perpustakaan di Amerika Serikat (AS), serta ada di Mesir dalam jumlah yang tak diketahui secara pasti.

Ada pula cetakan manuskrip yang berasal dari Afghanistan atau Iran. Terungkap pula bahwa hanya sedikit referensi yang mengungkapkan alat percetakan yang digunakan pada masa Islam. Referensi yang ada di antaranya adalah puisi-puisi Arab pada abad ke-10 dan ke-14.

Puisi itu menggambarkan bahwa alat percetakan pada masa itu dibuat pada sebuah pelat yang diukir dengan huruf-huruf. Ada pula yang mengungkapkan, alat percetakan dibuat pada blok kayu dengan huruf-huruf seperti gaya huruf Cina.

Tak diketahui pula, apakah kegiatan percetakan di dunia Islam memberikan pengaruh pada aktivitas yang sama di Eropa. Tak ada bukti yang menunjukkan adanya pengaruh itu. Namun, kemungkinan adanya pengaruh memang tak bisa dinafikan.

Terutama, cetakan manuskrip Eropa yang bergaya cetakan blok. Ada kemungkinan bahasa Italia tarocchi memiliki arti kartu tarot, yang termasuk artefak awal cetak blok di Eropa, berasal dari istilah Arab.

Namun, memang harus diakui, ini merupakan teori spekulatif yang perlu  dibuktikan lebih lanjut. Perlu banyak bukti untuk mengambil kesimpulan terkait hal tersebut. Di sisi lain, ada fakta bahwa percetakan buku dalam bahasa Arab muncul di Eropa, khususnya Italia.

Percetakan ini dilakukan secara sporadis yang berlangsung sebelum 1514 Masehi. Seorang dari Venezia yang bernama Gregorio de Gregori menerbitkan buku berjudul Book of Hours atau Kitab Salat al-Sawa'i untuk dikirimkan ke komunitas Kristen di Suriah.

Sayangnya, cetakan huruf kurang bagus, bahkan hampir tak bisa dibaca. Bagaimanapun, langkah Gregorio itu merupakan upaya yang berani untuk mencoba mencetak buku dengan abjad Arab. Ada juga nama Robert Granjon,  desainer dari Prancis yang terkait dengan dunia percetakan.

Granjon berusaha merancang alat percetakan seperti yang ada di dunia Islam. Ia berupaya mencetak buku dalam bahasa Arab sebab saat itu buku-buku berbahasa Arab cukup banyak diminati. Pada masa selanjutnya, Kardinal de Medici pun ikut berkecimpung dalam bidang ini.

Medici mencari seorang yang mahir berbahasa oriental untuk mengawasi operasi percetakkan buku. Akhirnya, ia bertemu Giovan Battista Raimondi, seorang filsuf, ahli matematika, dan ahli kimia. Hal terpenting, ia memiliki kompetensi yang berkaitan dengan percetakan Arab.

Selama melancong ke Timur, Raimondi telah belajar bahasa Arab, Turki, dan Persia. Selain itu, ia pun mengumpulkan tata bahasa dan kamus bahasa-bahasa tersebut. Dia juga mempunyai pengalaman yang banyak dalam menerjemahkan buku-buku dari bahasa Yunani dan bahasa Arab.

Untuk membuat percetakan bergaya Arab, Raimondi menyewa beberapa bangunan di Piazza del Monte d'Oro di Roma. Dia memerintahkan para pegawaianya untuk mempersiapkan tinta, kertas, dan bahan lain yang diperlukan.

Cetakan teks-teks akhirnya dibuat melalui alat cetak yang bernama Domenico Basa. Buku pertama yang berhasil dicetak adalah Precationum, yakni sebuah buku doa-doa Arab Kristen. Mereka juga mencetak buku sejarah karya Abu al-Abbas Ahmad ibn Khalil al-Salihi.

Buku tersebut berjudul The Book of the Garden of the Wonders of the World.


Muteferrika dan Percetakan di Turki

Saat masa kekuasaan Turki Utsmani, upaya untuk mewujudkan percetakan juga muncul. Ada sebuah nama yang berkontribusi dalam terwujudnya kegiatan tersebut, yaitu Ibrahim Muteferrika. Lelaki kelahiran 1647 Masehi ini merupakan seorang prajurit, ilmuwan, diplomat, dan penulis.

Kala masih belia, ia menyaksikan kegagalan yang pernah dialami oleh tentara Turki di suatu masa saat melakukan pengepungan di Vienna. Kemudian, ia menyadari bahwa itu menjadi pertanda penurunan kekuatan militer Turki. Banyak hal yang menyebabkan penurunan ini.

Namun, Muteferrika menyimpulkan, perlu inovasi untuk meningkatkan kekuatan tentara Turki. Termasuk, harus mengadopsi inovasi yang dilakukan oleh tentara Eropa. Hal itu harus dilakukan. Jika tidak, tentara Turki tak akan mampu meningkatkan kemampuannya.

Akibatnya, tentara Turki tak akan memiliki daya untuk mempertahankan kekuasaan Turki. Berpijak pada kenyataan itulah, ia memikirkan bagaimana membangun sebuah percetakan. Tujuannya, menyebarkan ide-ide ilmiah tentang kekuatan militer.

Dalam pandangan Muteferrika, penyebaran ide itu harus dilakukan secara cepat dan masif. Ia lalu mendorong penerjemahan teks-teks dari Eropa yang kemudian dicetak secara massal. Sayangnya, konservatisme pemerintah Turki saat itu menghadang ide Muteferrika.

Namun, Muteferrika tak patah arang. Ia mencari dukungan dari karibnya, yaitu Chelebi Mehmed Pasha Yirmisekiz, dan anaknya Sa'id yang pada 1721 baru kembali dari misi diplomatik ke Paris. Keduanya memiliki pandangan maju dan dibalut keinginan untuk melakukan perubahan.

Mereka juga mengagumi kemajuan yang terjadi di Paris, termasuk percetakan. Dengan bantuan mereka, akhirnya Wazir Agung Ibrahim Pasha mendorong Muteferrika membuat sebuah petisi kepada Sultan Ahmed III yang menjelaskan pentingnya percetakan.

Muteferrika pun memenuhinya. Ia membuat penjelasan perinci yang berjudul Wasilat al-Tiba'a atau The Utility of Printing. Dalam pembukaannya, ia mengingatkan pentingnya melestarikan hukum negara dan kesulitan untuk melakukannya.

Menurut Muteferrika, orang-orang kuno menuliskan dan mengabadikan hukum mereka pada tablet atau menuliskannya pada lembaran kulit. Namun, tablet atau perangkat lainnya yang digunakan untuk menuliskan hukum itu tak bisa selalu terlindungi.

Kekuasaan negara juga tak selalu bisa melindunginya, terutama dalam suasana perang. Muteferrika kemudian mencontohkan peristiwa penghancuran buku yang dilakukan oleh Genghis Khan dan Hulagu Khan, para penakluk Mongol pada abad ke-12.

Mereka menghancurkan kekuasaan Dinasti Abbasiyah, membakar atau merusak semua karya seni dan ilmu yang terdokumentasikan dalam bentuk buku. Saat Sultan Ahmed III menerima petisi itu, ia mengonsultasikan hal itu kepada seorang mufti yang bernama Shaikh Abd Allah.

Sang mufti yang ahli dalam hukum Islam itu memandang tak ada masalah usulan pembangunan percetakan itu. Akhirnya, setelah mendapat jawaban dari sang mufti, Sultan Ahmed III mengizinkan pendirian percetakan.

Sumber: Khazanah Republika



Blog EntryNikmatnya membaca dan menulis..Dec 28, '09 2:45 AM
for everyone
Saya merasa bahwa Allah begitu menyayangi dan mencintai saya dengan segala anugerah yang telah diberikan kepada saya. Di antara anugerah yang membuat saya merasa begitu disayang Allah adalah anugerah suka membaca dan menulis. Dengan banyak membaca saya semakin mengenal Allah, semakin mengenal Rasul-Nya, semakin mengenal sifat dan jati diri orang-orang besar yang saleh dan mulia.

Dengan membaca saya merasakan bisa melipat ruang dan waktu. Saya bisa merasakan hidup di pelbagai tempat dan saat. Saya bisa menghayati pelbagai macam perasaan jiwa. Saya bisa merasakan ketulusan Abu Bakar saat menemani hijrah Baginda Rasul. Saya bisa merasakan dahsyatnya doa Baginda Nabi saat berdoa sambil menangis menjelang Perang Badar. Saya bisa merasakan kesedihan kota Madinah saat Rasulullah wafat. Saya bisa merasakan rasa pilu tiada tara saat Sayyidina Husein, cucu Rasulullah Saw. dibantai di Karbala. Saya bisa merasakan semangat Imam Bukhari saat bertahun-tahun mengembara mengumpulkan hadishadis sahih. Saya bisa merasakan kobaran keberanian tiada tara saat mendengarkan pidato Thariq bin Ziyad saat membakar kapal-kapal tentaranya begitu menginjak tanah Andalusia.

Dengan membaca saya bisa merasakan indahnya musim semi di Istana Al Hamra. Saya bisa merasakan dahsyatnya rasa rindu Majnun pada Laela. Saya bisa mencium aroma darah yang menggenang di Kota Baghdad karena pembantaian yang dilakukan oleh Tentara Tartar. Saya juga merasakan aroma yang sama ketika Amerika melakukan pembantaian yang sama di Baghdad. Saya bisa merasakan perasaan hancur seorang ayah di Palestina yang anak kesayangannya ditembak mati di pangkuannya oleh Tentara Israel, seperti yang dialami ayah Muhammad Al Dorrah. Saya bisa merasakan ketegangan hidup bergelut dengan laut dan ikan hiu sendirian berhari-hari dan bermalam-malam seperti yang dialami Pak Tua dalam The Old Man and The Sea. Saya bisa merasakan rasa patriot tiada tara yang dirasakan oleh Soekarno dan Hatta saat memproklamirkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Itulah setetes perasaan yang saya dapat dari membaca. Masih ada ribuan perasaan dan pengalaman dari membaca yang tidak mungkin saya ceritakan di sini. Inilah satu anugerah yang saya rasakan sangat indah, saya rasakan betapa Tuhan sangat mencintai saya.

Dan dengan menulis saya merasakan kenikmatan yang tidak kalah dengan kenikmatan membaca. Dengan menulis saya bisa menciptakan perasaan saya sendiri. Saya bisa mengajak jiwa saya semangat, bahagia, sedih, haru, bergetar dan lain sebagainya. Dan saya bisa mengajak orang lain merasakan apa yang saya rasakan.Dengan menulis saya bisa mengajak jiwa saya semangat ketika sedang melemah. Saya bisa mengajak jiwa saya optimis memandang terang cahaya ketika sedang merasa sedih dan redup. Dengan menulis saya seolah bisa mengobati diri saya sendiri ketika saya sedang sakit. Dan dengan menulis saya merasa lebih berdaya. Saya merasa menemukan ruang yang pas untuk mengajak diri sendiri dan orang lain berusaha menjadi lebih baik dan berdaya. Dan dengan menulis saya merasakan betapa Tuhan begitu mencintai saya. Allahu akbar!


Diambil dari:
Sekapur Sirih dari Penulis, Novelet Dalam Mihrab Cinta
Habiburrahman EI Shirazy


Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional (Pusbuk Depdiknas) menggelar sayembara penulisan naskah buku pengayaan 2010. Kegiatan ini digelar untuk meningkatkan motivasi menulis di kalangan pendidik dan tenaga kependidikan. Sayembara yang terbuka bagi para pendidik dan tenaga kependidikan baik formal maupun nonformal ini berhadiah total Rp. 1.080.000. 000,00.

Tema penulisan:
Membangun Manusia Indonesia yang Religius, Cerdas, Bermartabat, Mandiri, dan Kompetitif di Era Global.

Naskah yang disayembarakan adalah buku pengayaan yang memuat materi yang dapat memperkaya dan meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan keterampilan, serta membentuk kepribadian peserta didik.

Peruntukan pembaca adalah untuk jenjang pendidikan SD/MI (kelas 4,5, dan 6), SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK/MAK.

Kegiatan ini merupakan salah satu upaya Pusbuk Depdiknas untuk membantu meningkatkan baik mutu maupun jumlah penulis dan naskah buku pengayaan. Sayembara ini khusus untuk pendidik karena Pusbuk berkeyakinan kalau guru – guru yang menulis karena dia yang mengetahui kebutuhan siswa, dia yang bergaul dengan siswa sehari-hari, dia yang bisa menulis.

Hasil naskah para pemenang akan ditawarkan kepada para penerbit. Hak cipta ada di penulis, Pusbuk hanya membantu memfasilitasi dengan menawarkan kepada para penerbit yang berminat, meminta untuk menetapkan royalti dan terus memantau penerbitannya.

Jenis naskah yang disayembarakan masing – masing enam naskah untuk tiap jenjang pendidikan.

Untuk SD/MI (kelas 4,5, dan 6) meliputi:
  • pengayaan pengetahuan alam dan matematika
  • pengayaan pengetahuan sosial dan humaniora
  • pengayaan keterampilan vokasional (kewirausahaan)
  • cerita anak
  • kumpulan pantun
  • kumpulan puisi

untuk SMP/MTs meliputi:
  • pengayaan pengetahuan alam dan matematika
  • pengayaan pengetahuan sosial dan humaniora
  • pengayaan keterampilan vokasional (kewirausahaan)
  • novel
  • kumpulan cerpen
  • kumpulan puisi

Untuk SMA/MA/SMK/MAK meliputi:
  • pengayaan pengetahuan alam dan matematika
  • pengayaan pengetahuan sosial dan humaniora
  • pengayaan keterampilan vokasional (kewirausahaan)
  • novel
  • drama
  • biografi

Persyaratan sayembara antara lain meliputi:
  • naskah yang diajukan adalah karya asli
  • tidak berseri
  • belum pernah menjadi pemenang sebagian ataupun seluruhnya dalam sayembara manapun
  • tidak sedang diikutsertakan pada sayembara lain
  • belum pernah diterbitkan
  • Naskah diketik komputer diatas kertas A4 minimal 60 halaman, 2 spasi, ukuran font 12. Jika menggunakan gambar, ukurannya harus proporsional dan mendukung materi.

Naskah dikirimkan paling lambat pada 1 Maret 2010 (stempel pos) kepada:
Panitia Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2010
Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
Jalan Gunung Sahari Raya No.4
Jakarta 10002.

Hadiah per jenis naskah untuk 54 naskah:
  • pemenang I Rp 21.000.000,00
  • pemenang II Rp 20.000.000,00
  • pemenang III Rp 19.000.000,00.

Informasi lebih lanjut tentang sayembara dapat menghubungi:
Pusat Perbukuan Depdiknas
telepon (021) 3804248, pes 275,
fax (021) 3458151, 3806229,
email: pusbuk@sibi.or.id atau bangnas_pusbuk@yahoo.com,
atau melalui laman www.sibi.or.id


Blog EntryPerpustakaan ZakatDec 10, '09 9:37 PM
for everyone
PERSEMBAHAN TERBAIK UNTUK ANDA PARA PENGGIAT ZAKAT, AKADEMISI, MAHASISWA DAN MASYARAKAT UMUM:

PERPUSTAKAAN ZAKAT
terbuka untuk umum

Service:
  • Tersedia tidak kurang dari 3000 judul buku seputar Zakat-Infaq -Shodaqoh-Wakaf (ZISWAF), pemberdayaan masyarakat, manajemen umum serta buku-buku bertemakan Islam lainnya.
  • Hot spot internet Gratis
  • Menerima konsultasi penyusunan skripsi, tesis maupun disertasi seputar zakat dan pemberdayaan masyarakat

Time:
Senin s/d Jum’at
Pukul 08.00 – 17.00 WIB

Location:
Jl. Margonda Raya No. 250 Depok
Telp. 021. 77205744

Officer:
Sdr. Joko dan Sdri. Ipa

PUSAT INFORMASI ZAKAT
The Indonesia Magnificence of Zakat (IMZ)
Dompet Dhuafa Republika


Blog EntryPerpustakaan di telepon umumDec 2, '09 9:23 AM
for everyone
BBC - Gagasan ini muncul setelah kotak telepon umum diangkat dan layanan perpustakaan keliling dihentikan

Sebuah kotak telepon umum tradisional Inggris yang berwarna merah berhasil diubah menjadi perpustaan terkecil di Inggris dengan koleksi sekitar 100 buku, CD, dan DVD.

Warga kampung Westbury-sub-Mendip di Somerset, Inggris Barat, bisa menggunakan perpustakaan itu kapan saja dan memilih koleksi yang diinginkan.

Para pengguna juga menambah koleksi dengan buku, DVD, atau CD yang sudah mereka gunakan untuk ditukar dengan yang belum mereka baca, dengar, atau tonton.

"Benar-benar berjalan. Buku-buku bertukar secara konstan," kata Bob Dolby, pemimpin paroki di wilayah itu

Dia menambahkan perpustakaan kecil itu kini sudah penuh dengan buku dan siapapun bisa menggunakannya secara gratis selama 24 jam.

"Fasilitas itu sudah berubah menjadi perabotan jalanan dan layanan komunitas yang digunakan secara teratur."

Ide perpustakaan kecil ini muncul dari seorang penduduk setelah kampung itu tidak lagi memiliki kotak telepon umum tradisional berwarna merah dan secara bersamaan layanan perpustakaan keliling dengan mobil juga dihentikan.

Dewan paroki Westbury-sub Mendip kemudian membeli kotak telepon dari British Telecommunication seharga £ 1.

Sejauh ini BT sudah menerima permintaan 770 kotak telepon untuk disesuaikan dengan pengunaan tertentu dan sudah 350 kotak telepon yang diserahkan ke dewan kota.

Dapat infonya dari http://anakx2.multiply.com


Blog EntryAgar Perpustakaan Komunitas SehatDec 2, '09 2:14 AM
for everyone

Banyak yang mengeluh, membikin perpustakaan komunitas itu susah. Dan susahnya itu soal dana. Tapi semua soal akan susah kalau hanya ada mengimpi-impi dalam pikiran tanpa ada langkah-langkah kecil.

Tovic Raharja, pengelola perpustakaan komunitas IVAA (khusus dokumentasi senirupa), membagi tips-tips membangun perpustakaan komunitas yang sifatnya berkelanjutan kepada Anda:

  1. Sebelum membikin perpustakaan komunitas, ditegaskan dulu keunikan apa yang ada dalam perpustakaan. Spesifikasi pengguna. Itu kuncinya untuk membikin brand. Karena jika isinya gado-gado ya apa bedanya dengan perpustakaan lain.
  2. Setelah menentukan koleksi apa yang ada dalam perpustakaan, susunlah program-program yang mendukung kehidupan koleksi-koleksi itu. Anggap saja program ini sebagai kaki dan jiwa koleksi.
  3. Mesti juga ada pengurus. Paling tidak yang menjaga perpustakaan dua orang dan tim riset dan dokumentasi 3 orang. Sebagai ujung tombak, penjaga perpus dituntut untuk tahu peta buku. Jika misalnya pengguna tak menemukan buku di perpus itu, si penjaga bisa menunjukannya di perpustakaan lain. Selain itu, seorang penjaga perpus berjiwa filantropik dan melayani kebutuhan pengguna.
  4. Cari tempat yang strategis dari segi jangkauan pengguna. Juga sehat. Maksudnya tidak pengap atau lembab karena berakibat pada kebugaran membaca pengguna maupun kesehatan buku itu sendiri.
  5. Rancang interior berupa rak dengan baik dan rapi. Pendeknya, menarik untuk dilihat.
  6. Siapkan juga mesin pencari buku. Saat ini sudah ada Open Source Library Managemnet System yang bisa diunduh dari http://senayan.diknas.go.id. Gratis.
  7. Perihal keanggotaan, buatlah kartu anggota dan aturan serta keuntungan-keuntungan bila menjadi anggota di perpustakaan itu.
  8. Koleksi perpustakaan bisa didapatkan dengan melakukan kerjasama dengan pihak lain yang memang berkait erat dengan pengguna perpustakaan itu. Misalnya IVAA yang bergerak di dunia senirupa kontemporer, maka kerjasama yang dilakukan umumnya dengan seniman-seniman. Soal pengembangan koleksi, tim riset harus kuat dan kreatif. Karena jantung dari perpustakaan adalah kekayaan koleksi. Makin lengkap, makin baik itu perpustakaan.
  9. Jaga kontinuitas. Karena dari kontinuitas muncul kepercayaan. Jika sudah dipercaya anggotanya sendiri, perpustakaan komunitas itu punya alamat panjang umur.
  10. Sebagai pendukung, alangkah baiknya buat juga warung atau cafe yang sebangun dengan perpustakaan. Selain membantu pengguna dalam hal fisik, juga warung atau cafe ini membantu kelangsungan finansial pengelolaan perpustakaan.


Demikian 10 tips dari IVAA. Yang baik dan mudah ya diambil. Yang tak berkenan ditahan dulu. (Gus Muh)

Sumber: http://indonesiabuku.com


Blog EntryEnggan Membaca, Kenapa?Nov 24, '09 12:20 AM
for everyone
Oleh: A. Azka

Menonton televisi seharian? Oh, selalu kuat. Membaca novel detektif, roman percintaan, atau cerita silat? Tentu bisa betah berjam-jam. Tapi membaca buku-buku Islam tulisan para ulama? Sedikit orang yang sanggup melakukannya. Mengapa, ya?
  1. Tidak Sabar
  2. Keder Melihat Buku
  3. Salah Baca
  4. Bahasanya Terlalu Berat
  5. Tidak Ada Provokator
  6. Sibuk Baca yang Tak Berguna
  7. Lemah Semangat
  8. Suka yang Sia-sia
  9. Tidak Memenej Waktu
  10. Harga Buku Mahal

Agar Enggan Jadi Sayang:

1. Kenali Kehebatan Ilmu
Setelah kenal baru bisa disayang, demikian ungkapan yang sering kita dengar. Salah satu cara mendongkrak semangat dan keinginan untuk membaca buku adalah dengan mengenal keutamaan ilmu dan ahli ilmu. Termasuk juga mengenal kedudukan kitab-kitab ilmu syar’i dan keberkahannya. Begitu seseorang telah mulai mengenal, maka ia pun akan berusaha untuk menyayangi dan mencintai buku sebagai sarana mentransfer ilmu. Nah, di antara manfaat membaca adalah:
  • Mempelajari ilmu syar’i –yang terdapat pada buku- merupakan langkah untuk memperbaiki amalan, menghilangkan kejahilan yang merupakan sebab celaan dan terjatuhnya seseorang pada hal-hal yang diharamkan Alloh Subhaanahu wa Ta’ala. Ilmu adalah kehidupan dan cahaya, sedangkan kebodohan adalah kematian dan kegelapan.
  • Lebih dekat dengan firman Alloh Subhaanahu wa ta’ala dan sabda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alayhi wa Sallam serta perkataan para ulama.
  • Mengenal hikmah dan nilai hukum-hukum syariat sehingga menyebabkan kita mantap dalam beragama.
  • Menjaga waktu dan memenuhinya dengan hal yang bermanfaat.
  • Kesibukan kita membaca akan menghalangi diri kita dari bergaul dengan teman yang buruk.
Setelah tahu keutamaannya, kita juga harus berjuang keras melawan segala sesuatu yang menghalangi kita dari membaca; baik itu berupa tontonan, bacaan yang sia-sia, godaan teman yang buruk, dan perasaan tidak mau bersabar.

2. Ada Penyemangatnya
Membaca buku Islam belum menjadi budaya masyarakat kita. Agar semangat membaca bisa terdongkrak, perlu diberikan penyemangat dan disediakan sarana-sarana yang mubah. Kita bisa ikut berperan di dalamnya. Caranya banyak, di antaranya dengan menyelenggarakan pameran buku Islam. Kini, acara semacam itu sudah mulai marak dilaksanakan di beberapa kota besar di Indonesia. Butuh biaya besar, ’kan? Sebenarnya, kegiatan pameran ini tak harus diselenggarakan secara besar-besaran. Namun, bisa juga dibuat dalam skala kecil, seperti di satu sekolahan, satu fakultas, pondok pesantren, atau bahkan di kampung. Cara yang lain adalah dengan menyediakan perpustakaan buku-buku Islam di tempat-tempat tertentu, misalnya di masjid, sekretariat rohis, dan lain-lainnya. Atau secara pribadi, kita pun bisa membuka perpusatakaan pribadi untuk dipinjamkan teman-teman sekitar rumah.

3. Mahal? Dicicil Saja
Buku mahal sehingga tidak mau baca buku? Bukan alasan. Mahalnya harga buku bisa diatasi degan menabung, menyisihkan uang yang kita miliki. Atau kita bisa meminjam buku di perpustakaan yang ada. Sah-sah pula kita meminjam buku kepada teman yang punya koleksi buku cukup banyak. Nah, tidak sulit, ’kan?
Hal penting yang perlu diingat agar kita tetap mampu membaca buku adalah kita mesti memenej waktu dengan baik. Sesibuk apapun pekerjaan dan aktivitas kita, berikan jadwal tersendiri yang memadai untuk belajar dan membaca buku keagamaan. Jadikan kegiatan membaca buku keislaman sama pentingnya seperti aktivitas yang lain. Sehingga kita akan selalu merasa butuh untuk membaca buku.

Gimana, masih enggan? Yuk, SEMANGAAAAT...!

Dikutip oleh Sovia (http://iwananashaya.multiply.com/journal/item/681) dengan sedikit perubahan, dari majalah Elfata No.9, Vol.07, tahun 2007, Halaman 17-20.


Blog EntryIlmu di Ujung TetikusOct 17, '09 10:01 PM
for everyone

Ketika keingintahuan kita bisa dijawab dengan satu kali klik jari kamu lewat ”mouse” alias tetikus, lalu bagaimana nasib perpustakaan sekolah kini? Apakah era ”cyber” yang serba berbasis ”web” telah membunuh segalanya yang bersifat konvensional? Inikah tanda matinya ilmu perpustakaan ”klasik”?

Jangan pernah sekali pun meremehkan pengetahuan di balik perpustakaan ya meskipun semua yang kamu mau itu bisa didapatkan dari internet. Sekalipun kemajuan internet jauh menjuntang, pantang bagi generasi muda untuk mengabaikan perpustakaan dengan tumpukan buku klasiknya (serius nih!).

Walau e-book atau buku elektronik mudah kalian akses, sejauh ini buku masih menjadi media terbaik untuk asah dan asuh otak kalian. Buku masih tetap menjadi media terbaik untuk mendidik karena membaca buku menumbuhkan kebiasaan, imajinasi, dan jangkauan nalar yang tak bisa didapat dengan mengakses media lain.

Eits.... kali ini MuDA enggak membahas buku, tapi bagaimana menjadikan khazanah internet menjadi perpustakaan elektronik yang bisa hadir di rumah siapa pun (asal punya koneksi internet).

Tentu dengan peringatan, bahan internet sebagai suplemen aktivitas kalian untuk belajar. Sssst, satu lagi pesannya: jika mengerjakan pe-er, jangan cuma copy-paste dari internet ya!

Mesin pencari

Perpustakaan elektronik atau e-library bisa berupa apa saja yang bersifat digital dan mudah diakses, seperti CD room, pita magnetik, video, slide, film, disket, dan situs web. Kali ini, MuDA khusus membahas cara memberdayakan internet.

Salah satu ciri media internet adalah pencarian yang mudah. Pencarian ini bisa dilakukan internal melalui fitur pencarian di situs web yang bersangkutan, juga bisa dilakukan secara eksternal melalui layanan situs mesin pencari.

Kalau sudah membicarakan mesin pencari, pemain raksasanya adalah Google dan Yahoo. Tapi, harus diakui, Google memimpin untuk teknologi pencarian. Mau menggunakan dua mesin pencari secara bersamaan? Ada yang sudah memikirkannya, bisa cek di www.twingine.com.

Jika perpustakaan konvensional masih menghadapi kendala standardisasi input pada katalog, terutama bila sudah bicara pada tingkat antarperpustakaan, maka untuk media internet tak ada persoalan standar input. Apa pun yang diketik di sebuah situs web, mesin pencari bisa melahap semuanya.

Tiap mesin pencari, seperti Google dan Yahoo, memiliki robot yang otomatis mengunjungi situs web dengan durasi dan frekuensi tergantung dari nilai penting situs web tersebut.

Bisa dipastikan, semua situs web akan diakses robot mesin pencari jika sang webmaster tak dengan sengaja membatasi akses mesin pencari itu.

Agar pencarian kamu lebih cepat, MuDA kasih saran agar kamu memanfaatkan cara-cara spesifik. Jika kamu ingin mencari informasi soal ujian nasional di situs web tertentu, misalnya www.kompas.com, tapi situs web tersebut tak memiliki sistem pencarian canggih, cukup buka Google dan ketik seperti ini: ujian nasional site:kompas.com. Maka, Google akan bekerja mencari semua informasi soal ujian nasional hanya di kompas.com. Jika hasil pencarian terlalu banyak, kamu harus memasukkan input lebih spesifik.

Pencarian pun bisa memasukkan file spesifik, misalnya hanya file doc (Microsoft Word). Contoh, jika ingin mencari dokumen doc Ujian Nasional, kita bisa memasukkan ”ujian nasional filetype:doc”.

Jangan lupa, Google pun punya kemampuan kalkulator. Google juga bisa mengonversi satuan yang berbeda, misalnya ”500 pounds in kg” untuk mengonversi 500 pounds ke kilogram.

Konversi mata uang asing juga mudah. Misalnya, ”50 SGD in IDR” untuk mengetahui nilai tukar 50 dollar Singapura ke dalam rupiah. Perintah lainnya bisa pelajari sendiri ya di Google....

Pencarian di buku

Untuk pencarian spesifik di sebuah buku, sekarang lagi heboh Google Books yang alamatnya www.books.google.com. Tak kalah hebohnya Google yang khusus mengindeks karya-karya akademik atau jurnal penelitian di www.scholar.google.com.

Heboh dalam artian, selain isinya yang kaya dan memudahkan banyak pihak untuk mencari informasi, juga heboh oleh tuntutan dari komunitas penerbit dan penulis buku dunia. Penerbit dan penulis yang karyanya dipindai Google Book tanpa izin pasti sakit hati karena memang bisa mengurangi pendapatan mereka.

Khusus Google Book, komunitas penerbit buku secara internasional sudah memperkarakan pengutipan buku-buku tanpa izin yang dianggap bisa mengurangi pendapatan mereka.

Kalian yang ikut Karya Ilmiah Remaja pasti bisa makin eksis dengan belajar dari berbagai jurnal di Google Scholar. Bagi yang ingin mengintip isi buku tertentu, tinggal cari di Google Book.

Masih banyak lagi teknologi pencarian yang canggih, seperti pencarian gambar, video, rute perjalanan di kota besar, dan pencarian belanja terdekat.

Wolfram|Alpha

Satu lagi mesin pencari yang mengejutkan adalah Wolfram|Alpha dengan alamatnya www.wolframalpha.com. Tagline situs web ini adalah ”computational knowledge engine”. Wow....

Tak sekadar mencari informasi teks, tapi secara komputasi juga mampu memecahkan berbagai pertanyaan umum. Mulai dari pertanyaan informatif hingga pertanyaan matematika, kimia, fisika, biologi, geografi, dan masih banyak lagi.

Tujuan Wolfram|Alpha adalah membuat ilmu pengetahuan dengan cepat bisa diakses dan dicari semua orang. Mesin pencari ini, selain punya mesin cerdas, juga mengoleksi berbagai input data, model, metode, dan algoritma dari yang mudah hingga sulit.

Janjinya sih, Wolfram|Alpha akan menjadi mesin canggih yang bisa diakses semua orang dari berbagai kalangan. Jadi, anak SD pun bisa dengan sekali klik mencari jawaban sebuah pertanyaan matematika tingkat perguruan tinggi jika dia sudah tahu cara mencarinya.

Dengan hanya mengetikkan nama kota, misalnya Jakarta, kita langsung disuguhi data populasi Jakarta, peta lokasi Jakarta, waktu lokal Jakarta, cuaca, bahkan ketinggian kota Jakarta. Ini sih model pencarian mudah. Wolfram bisa menjawab berbagai pertanyaan sulit yang sifatnya hitung-hitungan.

Statistik, misalnya. Dengan mudah bisa diselesaikan soal-soal statistik seperti analisis regresi, probabilitas, dan distribusi statistik.

Penyelesaian soal kimia juga menarik lho. Masukkan caffeine vs aspirin, dengan waktu sekian detik dia langsung membedakan kafein dan aspirin itu secara kimia, lengkap dengan diagram struktur, struktur 3D, dan masih banyak lagi.

Mesin pengetahuan ini, menurut situs resmi Wolfram|Alpha, memang dikerjakan sederet intelektual kelas dunia yang bertekad menjadikan proyek ini sebagai milestone capaian teknologi pencarian pada abad ke-21.

Saat ini, Wolfram|Alpha berisi 10 triliun jenis data, 50.000 jenis algoritma, dan kemampuan menjawab pertanyaan dari 1.000 ranah bahasa pengetahuan.

Mesin ini dibangun secara matematika selama 20 tahun di Wolfram Research. Tak heran, mesin ini memuat hingga 5 juta simbol matematika yang berjalan di kumpulan superkomputer. Tertarik?

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/16/0244410/ilmu.di.ujung.tetikus


Dahulu masjid sebagai taman pengetahuan pertama di dalam kehidupan kaum muslimin, benar-benar menjadi madrasah yang menyenangkan dan perguruan tinggi pendalaman ilmu, namun disamping itu sebagai taman pengetahuan dimana umumnya kaum muslimin mendapatkan pelajaran pertama mereka di sana, lalu pemahaman mereka bertambah luas dan berlimpah pengetahuan mereka, sehingga mereka menjadi kaum yang memiliki pondamen,popularitas, pemahaman, kesadaran, pengetahuan di tingkat puncak keilmiahan dan spesialisasi di berbagai disiplin ilmu agama dan dunia.

Masjid merupakan liga pertemuan kaum muslimin yang mempersiapkan setiap orang dari mereka untuk mendapatkan pengetahuan islam secara umum. Sebagaimana diselenggarakannya halaqah-halaqah pengajaran (majelis ilmu) untuk para penuntut ilmu di tingkat dasar dan tingkat tinggi sekalipun. Mencangkup seluruh kelompok, seperti dua sayap untuk pembelajaran. Sayap satunya bagi pria dan sayap lainnya bagi perempuan. Maka berdirilah institusi-institusi pendidikan dan kegiatan penelitian ilmiah dalam berbagai disiplin ilmu di dalam pelataran masjid. Setelah agama ini mampu meningkatkan sumber daya manusia dan kapabilitas intelektualnya, keimanan juga turut berperan menumbuhkannya, mensucikannya, dan mengarahkannya. Di dalam kemegaan fisik masjid-masjid jami’ terdapat perpustakaan, dimana para ulama mewakafkan buku-buku karya mereka di dalamnya. Sebagaimana para khalifah kaum muslimin dan para hakimnya saling berlomba mengumpulkan berbagai buku-buku untuk ditempatkan di dalamnya. 
 
Para ahli sejarah yang meriwayatkan bahwa perpustakaan-perpustakaan barbagai masjid, balai, sekolah, tempat-tempat konsultasi dan ilmu, menjadi sumber literatur bagi para penuntut ilmu dan ulama serta penulis. Dan ini merupakan sebaik-baik bukti mengenai apresiasi kaum muslimin terhadap buku, dan perhatian mereka kepada perpustakaan, serta tingkat tingkat penerimaan dan antusias mereka yang responsif terhadap usaha pembentukannya. Bahkan para khalifah dan amir saling berlomba-lomba dalam membeli buku-buku dan mewakafkannya kepada para penuntut ilmu. Seperti yang dilakukan oleh Qadhi Ibnu Haiyan yang mendirikan “rumah ilmu” -tepatnya di samping sebuah masjid di negeri Nisabur- beserta lemari buku-buku dan dilengkapi dengan asrama-asrama penginapan untuk para pendatang asing dari kalangan para penuntut ilmu, sekaligus menyediakan anggaran perbekalan, serta membantu semua kebutuhan mereka. 
 
Transfer periwayatan menjadi animo kaum muslimin yang kuat saat itu, khususnya para penuntut ilmu. Di masjid-masjid dimana mereka duduk dalam halaqah-halaqah yang sebagiannya dihadiri  ribuan para penuntut ilmu, diantaranya adalah Abu Darda’ Radhiyallahu ‘Anhu  dari kalangan generasi pertama yang mengadakan halaqah-halaqah ini di negeri Syam, dimana jumlah  murid-murid beliau mencapai 1600an lebih.

Berdasarkan hal tersebut, mungkin kita dapat berilustrasi dan membayangkan bentuk perpustakaan masjid-masjid yang rak-raknya telah dipenuhi dengan berbagai buku, manuskrip, dan informasi bergambar dari berbagai bahasa, warna dan negara. Sebagaimana kita juga dapat membayangkan keadaan masjid-masjid, betapa diramaikan dengan beribu-ribu kaum muslimin dari kalangan penuntut ilmu. Dimana diantaranya ada yang sedang duduk menyimak ustadznya di sebuah halaqah, atau ada bahkan ada yang bertanya. Atau ada yang sedang bersandar sambil membaca buku, atau ada yang sedang melakukan penelitian dengan menyelidiki manuskrip yang berusaha dipahaminya. Bukankah ini merupakan suatu gambaran yang langka dan indah, untuk masyarakat yang gaung perkembangannya sampai pada tingkatan kebangkitan ilmiah, dengan keutamaan bunga api agama yang disulut oleh pohon keberkahan ini? Maka bersinarlah pijar-pijar ilmu beserta cabang-cabangnya secara berkilauan dan gemerlap nan elok.

================

Download ebook lengkapnya: MASJID & PENGARUHNYA DALAM DUNIA PENDIDIK


Blog EntryPerpustakaan Masjid Perlu Tenaga ProfesionalAug 17, '09 10:25 PM
for everyone
Perpustakaan masjid di Indonesia tidak mempunyai tenaga profesional sehingga buku-buku yang dimiliki tidak terawat dengan baik. Padahal buku literatur tersebut merupakan sumber ilmu.

Permasalahan tersebut terungkap dalam 'Workshop Peningkatan Kualitas Pengelola Literatur Masjid' di Yogyakarta, Selasa-Jumat (21-24/7). Workshop diikuti 70 orang pengelola perpustakaan masjid dari seluruh Indonesia.

Paling banyak literatur yang dimiliki masjid Alquran dan Kitab Tafsir. Kemudian disusul Kitab Hadits, Kitab Fikih, Kitab Tauhid. Sedang buku-buku umum sangat minim,'' kata Prof Dr H Maidir Harun, Kepala Pulitbang Lektur Keagamaan Depag di Yogyakarta, Jumat (24/7).

Puslitbang Lektur Keagamaan Depag RI menggelar workshop dengan harapan, perpustaan masjid di Indonesia bisa lebih baik.

Maidir Harun, juga mengharapkan agar melalui workshop ditemukan solusi terbaik untuk memperbaiki perpustakaan masjid di Indonesia. Sekaligus melalui perpustakaan masjid bisa menumbuhkan minat baca masyarakat. ''Minat baca masyarakat juga merupakan persoalan tersendiri,'' kata Maidir.

Masyarakat, kata Maidir, masih lebih suka mendapatkan dakwah bil lisan. Karena itu, melalui perpustakaan wawasan masyarakat bisa lebih meningkat yaitu mendapatkan ilmu agama dari dakwah bil qiroah.

Untuk menuju ke tingkat dakwah bil qiroah, perpustakaan masjid tidak hanya dikelola oleh tenaga profesional, tetapi juga dilengkapi dengan buku-buku yang dibutuhkan masyarakat sekitar masjid. Sehingga para pengunjung perpustakaan dapat menemukan buku-buku yang diinginkan.

Kata Maidir, untuk menambah koleksi buku, masing-masing pengelola diminta untuk kreatif mencari donaturnya. Sehingga perpustakaan masjid tidak bisa tergantung pada Depag saja.

Sementara Prof Dr Nazaruddin Umar, Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Depag RI, mengatakan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja. Di zaman Rasullah, masjid juga berfungsi untuk berkesenian, rumah sakit, pengadilan, pengumuman penting, latihan perang, tempat tahanan perang, kegiatan ekonomi dan lain-lain.

Namun masjid yang ada saat ini lebih banyak sebagai tempat ibadah saja. Karena itu, Dirjen sangat mendukung upaya untuk menggalakan perpustakaan masjid di Indonesia. Ia mengharapkan agar masjid bisa berfungsi sebagai kegiatan masyarakat seperti di zaman Rasullah.

Untuk bisa menghidupkan atau memberdayakan masjid, kata Nazaruddin, takmir harus bekerjasama dengan pihak lain. Seperti sebagian lahan masjid digunakan untuk membangun pertokoan. Sehingga di sini akan ada dinamika perekonomian dan masyarakat bisa belajar menjadi entreperenur atau wirausaha. ''Untuk ini dibutuhkan manajer,'' katanya.

Namun Nazaruddin juga mengingatkan agar dalam memilih partner kerjasama harus hati-hati, sebab saat ini banyak orang yang ingin mengelola masjid. Karena itu, takmir masjid harus memilih orang yang tepat untuk ikut mengelola masjid.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/64677/Perpustakaan_Masjid_Perlu_Tenaga_Profesional



Banyak kegiatan dicanangkan, tujuannya agar santri dan masyarakat semakin gemar membaca.

Dua orang bersarung dan berpeci itu tampak bersemangat memberikan pertanyaan. Maka, berlomba-lomba para peserta mengacungkan jari, untuk menjawab. Seorang di antaranya menjawab dengan benar, dan segera mendapat hadiah berupa snack seharga Rp 500.

Apa yang mereka kerjakan? Ternyata, keduanya, Koordinator dan Sekretaris Pondok Baca Qi Falah (PB Qi Falah) Ustadz Agus F Awaluddin dan Ustadz Ahmad Turmudzi, sedang mengadakan Cerdas Cermat Tematik (CCT), bertempat di PB Qi Falah. Pesertanya adalah para santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah, yang berlokasi di Jl Sampay-Cileles Km 5 Desa Sumurbandung, Cikulur, Lebak, Provinsi Banten.

CCT, menurut Ustadz Agus, adalah cerdas cermat yang hanya memfokuskan pada satu tema tertentu. Misalnya tema seputar kehidupan Rasulullah SAW, sahabat, Alquran, imam mazhab dan seterusnya. Kegiatan ini diniatkan untuk memberikan pendalaman bagi para santri terkait suatu tema.

Pada setiap pertanyaan, yang kemudian dijawab peserta, akan langsung diberikan ulasannya oleh panitia. ''Harapannya, para peserta akan mendapat tambahan ilmu. Jadi ini materi belajar juga,'' ujar Ustadz Agus.

Suasana pun dibuat senyaman mungkin. Agar tidak terkesan kaku, membosankan dan terlampau serius, maka panitia menyediakan hadiah ala kadarnya bila peserta sanggup menjawab pertanyaan dengan benar. ''Bisa lebih menyenangkan, para peserta pun jadi lebih bersemangat,'' imbuh Ustadz Ahmad Turmudzi.

Ratusan santri Ponpes Qothrotul Falah, baik yang MTs maupun SMA, selalu antusias mengikuti kegiatan ini. Seperti diungkapkan Dien Sahadah, santriwati yang juga Ketua Puteri Organisasi Pondok Pesantren Qothrotul Falah (2009-2010). ''Senanglah, belajar ada  snack -nya,'' ujarnya.

CCT adalah satu dari beberapa agenda kegiatan PB Qi Falah. Ada beberapa kategori kegiatan di sini, yakni agenda harian (jadual buka rutin), mingguan (CCT, diskusi buku, diskusi tematik, kajian kitab kuning, cerita anak, konsultasi bebas dan nonton bersama), dwi mingguan (penerbitan Bulletin Qi Falah), bulanan (pelatihan resensi dan jurnalistik), dan tiga bulanan (gerakan wakaf buku).

Melalui agenda-agenda ini, kata Ustadz Agus, pihaknya ingin sungguh-sungguh meramaikan perpustakaan. Tujuannya supaya santri dan masyarakat bisa dekat dengan perpustakaan dan buku. ''Bagi kami, perpustakaan adalah ruh pendidikan. Jika ruhnya loyo dan tidak ada kehidupan, maka pendidikan pun akan loyo dan tak berkehidupan,'' tandas dia.

Ramah lingkungan

Dimotori Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah KH Achmad Syatibi Hanbali (Ketua Majelis Ulama Indonesia Lebak 2008-2013), para dewan guru yang menaruh perhatian pada pengembangan perpustakaan dan sumber daya manusia, berfikir untuk mewujudkan perpustakaan yang menyenangkan dan 'ramah lingkungan'. Akhirnya, mereka sepakat membentuk perpustakaan dengan nama Pondok Baca Qi Falah, pada 1 Muharram 1430 H/29 Desember 2008 lalu.

Agar memudahkan pengelolaan koleksi pustaka, PB Qi Falah menggunakan  data base komputer dengan program  Athenaeum Light . Awak PB Qi Falah juga dibekali ilmu perpustakaan sebagai penunjangnya. Sementara untuk mempermudah penyebaran informasi pada masyarakat luas, maka dibangun  website dengan domain  www.pondokbacaqifalah.blogspot.com . Pengelolaan sehari-hari dibantu seorang sukarelawan yang memiliki keterampilan di bidang ini.

Para pengelola perpustakaan berharap, dengan fasilitas yang ada, bisa menjadi ruang publik, tempat bertemunya banyak orang dari berbagai latar belakang dan sebagai sarana pemublikasian berbagai pengetahuan.

Sumber: http://www.republika.co.id


Blog EntryJika Punya Kesempatan, Membacalah! Jan 23, '09 1:26 AM
for everyone
“Siapa merintis jalan mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (Muslim)

Ada posisi khusus untuk mereka yang berilmu

Ada kemuliaan tersendiri yang Allah berikan buat orang yang berilmu. Di dunia dan akhirat. Ia bisa lebih mulia dari mereka yang banyak harta dan tinggi jabatan. Bahkan, lebih mulia dari ahli ibadah sekalipun.

Rasulullah saw. bersabda, “Kelebihan seorang alim (ilmuwan) terhadap seorang ‘abid (ahli ibadah) ibarat bulan purnama terhadap seluruh bintang.” (Abu Dawud)

Bahkan, Alquran menjelaskan bahwa orang yang paling takut pada Allah adalah para ulama. Tentunya, mereka yang memahami kebesaran dan kekuasaan Allah swt. “…Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama…” (Fathir: 28)

Begitu tingginya penghargaan buat mereka yang berilmu. Khusus mereka yang tergolong pakar dalam Alquran, ada kemuliaan tersendiri. Dan kemuliaan itu mereka dapat saat bertemu Allah kelak di hari pembalasan.

Rasulullah saw bersabda, “Seorang mukmin yang pandai membaca Alquran akan bersama malaikat yang mulia lagi berbakti….” (Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain Rasulullah saw. mengatakan kepada Abu Dzar, “Wahai Abu Dzar, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah lebih baik bagimu dari shalat (sunnah) seratus rakaat. Dan, pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan, dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik dari shalat seribu rakaat.” (Ibnu Majah)

Seperti apapun kita hidup, taka ada yang tanpa ilmu

Hidup dan pengetahuan nyaris tak bisa dipisahkan. Sulit membayangkan jika kehidupan ditelusuri tanpa pengetahuan. Ruang-ruang kehidupan menjadi begitu gelap. Dan jalan yang akan ditempuh pun tampak bercabang-cabang.

Itulah kenapa Islam mewajibkan umatnya menuntut ilmu. Rasulullah saw. mengatakan, “Menuntut ilmu wajib buat tiap muslim (laki dan perempuan).” (Ibnu Majah)

Dari situ bisa dipahami bahwa Islam menginginkan umatnya hidup bahagia. Dunia dan akhirat. Karena tak satu kebahagiaan pun di dunia ini yang bisa diraih tanpa ilmu. Mulai dari profesi yang menghasilkan uang, hingga pada pengokohan status hidup sendiri. Keberadaan sebuah keluarga misalnya, sulit bisa harmonis jika tanpa ilmu seni berkeluarga. Begitu pun pada yang lain: sebagai manusia, mukmin, warga negara, dan warga dunia. Jika status-status ini tidak disertai ilmu, orang akan menjadi korban pembodohan dan penzaliman.

Belum lagi persiapan menyongsong kehidupan akhirat. Tentu lebih banyak butuh ilmu. Karena kehidupan tak lain sebagai ladang amal buat akhirat. Gagal hidup di dunia bisa menggiring kecelakaan di akhirat. Na’udzubillah.

Jika mau, selalu ada cara

Persoalan sukses-tidaknya seseorang mencari ilmu ternyata bukan sekadar masalah biaya. Bukan juga kesempatan. Tapi, lebih pada kemauan. Inilah kendala berat siapa pun yang ingin sukses.

Rasulullah saw. mengajarkan para sahabat untuk selalu berlindung pada Allah dari sifat malas. “Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari rasa sesak dada dan gelisah, dari kelemahan dan kemalasan….”

Inilah di antara penyakit mental umat Islam saat ini yang sangat bahaya. Malas bukan hanya merugikan diri si pelaku, melainkan juga orang lain. Bisa anggota keluarga, bawahan, dan lain-lain. Karena malas, seseorang atau sebuah kumpulan masyarakat bisa kehilangan momentum perubahan yang Allah pergilirkan.

Dalam pola konsumsi misalnya, orang lebih senang mengalokasikan uangnya buat jajan ketimbang ilmu. Harga bakso di Jakarta bisa lima kali harga koran. Tapi, tetap saja tidak sedikit yang lebih memilih bakso daripada menyisihkan dana jajannya buat pengetahuan.

Jangankan yang dengan biaya. Majelis taklim mana di Indonesia yang ikut harus dengan biaya. Semua gratis. Dapat ilmu, pahala, bahkan hidangan konsumsi; tapi tetap saja majelis taklim sepi peminat.

Jadi, yang mahal dalam modal perubahan adalah kemauan. Dari sinilah Allah memberikan jalan keluar. Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut: 69)

Jika ada kesempatan, membacalah

Ketika ada kemauan mengejar target sesuatu, kadang terbayang cara-cara yang jelimet. Sulit. Dan akhirnya tidak terjangkau. Begitu pun dalam mengejar ilmu pengetahuan. Yang biasa terbayang adalah kursus, beli referensi, privat, dan bentuk program lain yang enak dilalui tapi sulit ditempuh. Apalagi berhubungan dengan biaya.

Padahal, pintu ilmu yang paling dasar adalah membaca. Dan persoalan membaca tidak melulu berhubungan dengan biaya. Memang, buku di Indonesia masih tergolong mahal. Tapi, masih banyak cara agar membaca tidak menyedot isi kantong. Bisa lewat perpustakaan, patungan beli buku bersama teman, diskusi majalah, dan sebagainya.


Sumber artikel: http://www.dakwatuna.com/2008/jika-punya-kesempatan-membacalah/



Blog EntryTingkatkan Minat Baca Perlu Ada AktivitasJan 6, '09 4:10 AM
for everyone
Kegiatan menumbuhkan budaya baca jangan terbatas dilakukan di dalam ruangan atau perpustakaan serta pada kegiatan membaca buku semata. Perpustakaan perlu digiatkan dengan sejumlah aktivitas agar menarik. Hidupkan berbagai aktivitas yang dibutuhkan masyarakat. Secara tidak langsung, orang akan semakin nyaman di perpustakaan dan memanfaatkan koleksi yang ada di dalamnya untuk belajar.

Salah satu terobosan misalnya seperti yang dilakukan Forum Indonesia Membaca dengan menggelar program Book on The Street. Kegiatan pada Hari Bebas Kendaraan Bermotor di jalan-jalan di Jakarta itu diisi dengan membuat tempat baca di badan jalan serta beragam kegiatan, seperti library clinic—konsultasi mengelola perpustakaan di rumah/keluarga— melatih keterampilan membuat origami, menggelar berbagai permainan tradisional, hingga mengajarkan pemilahan sampah.

Sumber: www.kompas.com


SEMBILAN REKOMENDASI ”ODE KAMPUNG #3: TEMU KOMUNITAS LITERASI SE-INDONESIA
Rumah Dunia, 5-7 Desember 2008
milis: www.yahoogroups.com/group/komunitas_literasi

Kami para peserta Ode Kampung III: Temu Komunitas Literasi se-Indonesia 2008 bersepakat bahwa literasi adalah hak kunci untuk mendapatkan hak berekonomi, bersosialisasi, partisipasi politik dan pembangunan, khususnya dalam masyarakat berbasis pengetahuan. Literasi merupakan kunci peningkatan kapasitas seseorang, dengan memberikan banyak manfaat sosial, di antaranya cara berpikir kritis, meningkatkan kesehatan dan perencanaan keluarga, program pengurangan angka kemiskinan, dan partisipasi warga negara. Literasi bukan hanya persoalan individu, tapi juga menyangkut persoalan komunitas dan masyarakat luas. Literasi bukan sekadar melek huruf, tapi merupakan dasar penopang bagi pembelajaran di masa datang. Literasi memberikan piranti, pengetahuan dan kepercayaan diri untuk meningkatkan kualitas hidup, untuk lebih dapat memberikan kemungkinan berpartispasi dalam aktivitas bermasyarakat dan membuat pilihan-pilihan informasi yang akan dikonsumsi.

Untuk mewujudkan hal tersebut, kami mengajukan sembilan rekomendasi:
  1. Mendesak pemerintah pusat untuk segera menyusun regulasi yang lebih teknis terkait dengan UU no 43 tahun 2007 tentang perpustakaan.
  2. Mewajibkan Pemerintah daerah untuk membangun perpustakaan yang representatif, meningkatkan pelayanan yang optimal dan menyediakan tenaga pengelola perpustakaan yang profesional.
  3. Menjalin kemitraan antara perpustakaan daerah dan perpustakaan komunitas. Serta membangun kerjasama antara perpustakaan komunitas lokal dan daerah lainnya.
  4. Mewajibkan lembaga pendidikan dan lembaga pemerintahan yang memiliki perpustakaan agar memberikan pelayanan bagi masyarakat luas.
  5. Mewajibkan pengembang komplek perumahan/ pengelola pusat perbelanjaan untuk membangun perpustakaan sebagai bagian dari fasilitas umum.
  6. Mewajibkan penerbit menyumbangkan buku-buku kepada perpustakaan komunitas dan mengadakan peluncuran buku terbaru serta pelatihan menulis bersama para penulis buku.
  7. Mendorong warga masyarakat untuk mendirikan perpustakaan komunitas di setiap desa/ kelurahan.
  8. Mewajibkan perusahaan mengalokasikan tanggungjawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) untuk perpustakaan komunitas.
  9. Menumbuhkan kebiasaan membaca dengan menyediakan bahan bacaan di lingkungan keluarga, lembaga pendidikan, dunia kerja, instansi pemerintah, tempat ibadah dan fasilitas umum lainnya.
Demikian sembilan rekomendasi ini diajukan kepada khalayak. Semoga mendapat dukungan dari semua elemen terkait demi mewujudkan kejayaan Indonesia di masa mendatang.

Tim Perumus,

Gola Gong, Wien Muldian, Firman Venayaksa, Kiswanti, Halim HD, Subhan, Amel, Mahmudin, Ariful Amir.

======================================================

Komunitas/ Yayasan/ Penerbit/ Rumah Baca/ TBM yang menyuarakan dan mendukung rekomendasi ini:
1. Rumah Dunia (Serang)
2. Forum Indonesia Membaca (Jakarta)
3. 1001 Buku (Jakarta)
4. Forum Lingkar Pena (Jakarta)
5. KKS Melati (Jakarta)
6. Perahu Baca (Tangerang)
7. Warabal (Bogor)
8. Tatas Tuhu Trasna (Lombok)
9. Forum Pinilih (Solo)
10. Kandank Jurank (Tangerang)
11. Forum TBM (Jakarta)
12. Jala Pustaka (Pekalongan)
13. Nurani Dunia (Jakarta)
14. Tunas cendikia (Jakarta)
15. Zhaffa (Jakarta)
16. Lereng Medini (Kendal)
17. Textour (Bandung)
18. Asiatul Jannah (Cilegon)
19. Pendar Pena (Depok)
20. Lentera Kalbu (Pandeglang)
21. Rumah Tukik (Anyer)
22. Ratu Bagus (Serang)
23. Kebon Sastra (Serang)
24. Kubah Budaya (Serang)
25. Pondok Maos (Kendal)
26. Cahaya Lentera (Bandung)
27. Sanggar Daerah Pinggir Rel (Jakarta)
28. Ibnu Hajar (Magelang)
29. Kampung Apung (Jakarta)
30. Sakinah (Tangerang)
31. Biblio (Jogjakarta)
32. Teras Puitika (Banjar Baru)
33. Histeria (Semarang)
34. Aura Books (Pandeglang)
35. Sanggar Sastra Serang (Serang)
36. Tifa (Bekasi)
37. Perpustakaan Fisip Unair (Surabaya)
38. Cermin (Tasikmalaya)
39. Pondok Maos guyub (kendal)
40. Si Bagong (Purbalingga)
41. Sygma Publishing (Bandung)
42. Mizan (bandung)
43. Salamadani (Bandung)
44. Agromedia (Jakarta)
45. Kramat Jaya (Pandeglang)
46. Berkah Saluyu (Pandeglang)
47. Angsana (Pandeglang)
48. Attaqwa (Pandeglang)
49. Alfattah (Tangerang)
50. Komunitas Penulis Jakarta (Jakarta)
51. WaTas Media (Banjarmasin)
52. Forum Komunikasi Teater Banjarbaru (Kalimantan)
53. Enigma Community (Kalimantan)
54. Kelompok Studi Sastra Banjarbaru (Kalimantan)
55. Sanggar Matahari Martapura (Kalimantan)
56. Arjasari (Bandung)
57. Kandangpati (Sumatra)
58. Teater Lakon (Bandung)
59. Komunitas Bunga Matahari (Jakarta)
60. Jaringan Rumah Usaha (Semarang)
61. Bike To Work (Jakarta)
62. Ajar Meteseh (Kendal)
63. Ruang Sunyi (Bandung)
64. Baitul Hamdi (Menes)
65. Al-Muna (Menes)
66. Maritim (Pandeglang)
67. Visi Bangsa (Serang)
68. Bina Imu (Pandeglang)
69. Tunas Bangsa (Pandeglang)
70. Nina’s Creative Centre (Pandeglang)
71. Wacana (Jakarta)
72. Penulis lepas (Jakarta)
73. Rumah Cahaya (Depok)
74. Reading Bugs (Jakarta)
75. Matahari (Bogor)
76. Yayasan Aksara Angka (Bandung)
77. siapa menyusul?

Kepada Yayasan/ komunitas/ Taman Baca/ penerbit dll yang hendak mendukung sembilan rekomendasi ini dapat mengirim email ke: odekampungtiga@gmail.com


A. PENDAHULUAN

Perpustakaan Nasional RI berupaya untuk selalu meningkatkan kualitas layanannya kepada pemustaka, termasuk kualitas pustakawannya. Untuk itu, Perpustakaan Nasional RI menyelenggarakan Lomba Penulisan Artikel tentang Kepustakawanan Indonesia Tahun 2008. Lomba ini sekaligus juga untuk menyambut Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan tanggal 14 September 2008. Dari kegiatan ini diharapkan Perpustakaan Nasional RI memperoleh masukan positif dan ilmiah dari masyarakat pengguna Perpustakaan Nasional RI .

B. TEMA LOMBA

Manfaat Teknologi Informasi untuk Meningkatkan Kualitas Layanan Perpustakaan Nasional RI.

C. TOPIK PENULISAN

Pendapat, pandangan dan masukan dari pustakawan, mahasiswa dan masyarakat umum tentang kesiapan pustakawan Perpustakaan Nasional RI dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas layanannya.

D. PELAKSANAAN LOMBA

  • Pengumpulan artikel: 1 Juli – 13 September 2008;
  • Penilaian artikel oleh Tim Juri: 14 September – 13 Oktober 2008;

Pemenang akan diumumkan pada bulan Oktober 2008 dalam acara Penutupan Rangkaian Kegiatan Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan Tahun 2008 serta pada situs resmi Perpustakaan Nasional RI: www.pnri.go.id; Artikel terbaik akan dimuat dalam majalah Visi Pustaka terbitan Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi, Perpustakaan Nasional RI.

E. PERSYARATAN PESERTA

  • Mahasiswa, pustakawan dan masyarakat umum;
  • Melampirkan fotokopi KTP/SIM/Kartu Mahasiswa/Kartu Karyawan/identitas lain;
  • Melampirkan daftar riwayat hidup;
  • Melampirkan pas foto berwarna ukuran 3×4 = 1 lembar.

F. TATA CARA PENGIRIMAN ARTIKEL

  • Peserta lomba boleh mengirim lebih dari satu artikel dengan judul berbeda. Satu orang maksimal mengirim dua judul artikel yang berbeda;
  • Panjang artikel 10-15 halaman, ukuran kertas A4, spasi 1 1/2, jenis huruf Times New Roman, ukuran huruf 12;
  • Artikel dikirim dalam bentuk cetak terjilid rangkap 2 (dua), disertai soft file berupa disket atau CD;
  • Artikel diterima panitia selambat-lambatnya tanggal 13 September 2008;
  • Artikel dikirim dalam sampul tertutup disertai kode LPAKI – 2008 langsung ke Panitia Lomba Penulisan Artikel Tentang Kepustakawanan melalui pos atau email ke alamat:
    A/n Luthfiati Makarim, Bidang Layanan Koleksi Umum, Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi, Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi, Perpustakaan Nasional RI. Jl. Salemba Raya No.28A, Jakarta Pusat. Telpon dan fax: (021) 3156149, 3103554, e-mail: luthfiaty@yahoo.com

G. KRITERIA PENILAIAN

  • Artikel harus memiliki nilai manfaat untuk pengembangan pustakawan Perpustakaan Nasional RI , khususnya untuk peningkatan kualitas layanan Perpustakaan Nasional RI ;
  • Bersifat aplikatif dan inovatif;
  • Isi artikel harus asli, bukan saduran atau terjemahan;
  • Artikel belum pernah/sedang dilombakan;
  • Artikel belum pernah dipublikasikan di media apapun;
  • Isi artikel harus sesuai dan relevan dengan tema lomba dan topik penulisan;
  • Artikel yang sudah dikirim menjadi hak panitia lomba;
  • Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.

H. HADIAH

  • Juara 1: Rp. 6.000.000,- (Enam juta rupiah) dan piagam penghargaan;
  • Juara 2: Rp. 5.000.000,- ( Lima juta rupiah) dan piagam penghargaan;
  • Juara 3: Rp. 4.000.000,- (Empat juta rupiah) dan piagam penghargaan;
  • Juara Harapan 1: Rp.2.500.000, - (Dua juta lima ratus ribu rupiah) dan piagam penghargaan;
  • Juara Harapan 2: Rp.2.000.000, - (Dua juta rupiah) dan piagam penghargaan;
  • Juara Harapan 3: Rp.1.500.000, - (Satu juta lima ratus ribu rupiah) dan piagam penghargaan;
  • Hanya ada masing-masing satu orang pemenang untuk juara harapan 1-3;
  • Hadiah dipotong pajak yang ditanggung oleh pemenang.

Blog EntryMisteri Minat Baca MasyarakatJul 2, '08 4:20 AM
for everyone
Kuadi namanya, 37 tahun. Lulusan SMA. Bapak dari tiga anak ini kesehariannya bekerja sebagai penarik becak, dan menjadi dalang. Tentu saja bukan dalang kerusuhan tapi dalang sungguhan. Dalang wayang kulit.

"Lumayan mas, kalau pas menjelang perayaan agustus-an banyak order." Terangnya dengan bahasa jawa suatu kali. Bahkan jika order mendalang banyak, untuk sementara narik becaknya libur. Kuadi termasuk dalang yang disukai banyak orang di kawasan Gringsing, Weleri dan sekitarnya.

Pasalnya, ketika masuk sesi goro-goro, via Punakawan Kuadi begitu mahir dalam menyentil, dan menyindir penguasa. Ada saja persoalan politik, sosial, dan ekonomi yang mengerutkan dahi, ia masak, kemudian disajikan dalam bentuk yang cair, rileks, satir, olok-olokan, lucu
sekaligus subversif!

"Kebetulan saya ketika SMA dulu suka membaca buku mas, dan kebiasaan itu masih saya lakukan sampai sekarang." Jawabnya ketika saya tanya soal resep jitu kelihaiannya mendalang. Kuadi melahap berbagai bacaan khususya tentang wayang—bidang yang sangat ia cintai sejak usia Sekolah Dasar—dan sejarah. Seperti babad tanah jawi, filosofi di balik nama tokoh-tokoh wayang, kisah Mahabarata dan Ramayana. Berita termutakhir di koran pun tak luput menjadi amahannya. "Dengan banyak membaca, ada saja yang bisa saya olah menjadi bahan cerita. Pokoknya tidak ada habisnya mas."Tambah Kuadi mengakhiri jawabannya.

***
Soal minat baca, ada satu fakta penting yang sering kali orang lupa: bahwa tingginya minat baca ternyata tidak berbanding lurus dengan tingginya tingkat kemampuan ekonomi seseorang—satu dalih yang sering disangka orang sebagai biang kerok jebloknya minat baca. Mudahnya, kaya belum tentu gemar membaca buku. Sarjana bukan jaminan penyuka baca. Itu sebab mengapa Primanto Nugroho ketika mempresentasikan hasil penelitian kualitatifnya pada diskusi minat baca yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Asia Pasifik Universitas Gadjah Mada (11/10/2000), memberi judul hasil penelitiannya: Memotret Misteri Minat Baca di Masyarakat.

Temuan Primanto sungguh mengagetkan, jika tidak mau disebut aneh! Apa pasal? Duduk perkara minat baca ternyata bukan soal kalkulasi tinggi atau rendah. Minat baca lebih merupakan keadaan yang bervariasi sesuai dengan lokalitas di setiap elemen penyusun gerak masyarakat. Kepekaan dan variasi kebutuhan informasi di masyarakat itulah yang akan banyak menentukan keberhasilan suatu bacaan. Dalam bingkai temuan Primanto, minat baca (buku) masyarakat sangat bergantung kepada bagaimana masyarakat menganggap penting atau tidak penting suatu informasi. Sekaligus kemampuan memilih dan memilah informasi yang akan dikonsumsi. Karena pada dasarnya media teks, apapun itu merupakan kemasan/bentukan luar informasi saja.

Dengan demikian pamrih meningkatkan budaya baca masyarakat berbanding lurus dengan bagaimana memberikan kesadaran tentang betapa pentingnya informasi dalam kehidupan (pekerjaan dan aktivitas) mereka. Persepsi terhadap informasi itu, sebenar-benarnya faktor penentu mengapa orang rajin atau malas membaca buku. Sejauh informasi dianggap tidak penting, sejauh itu pula minat baca (buku) akan tetap jongkok. Biar ada berbagai kebijakan populis: kampanye gemar membaca, perpustakaan keliling, subsidi buku, hibah buku, buku murah (diskon), deregulasi industri penerbitan buku, dan sebagainya.

Bukti paling dekat, laporan Jajak Pendapat Kompas (20/11/2006), tentang Minat Baca warga Jateng, dengan sampel: Kota Semarang, Solo, Purwokerto, dan Tegal. Sekitar 77,53 persen responden, mengisi waktu luang dengan membaca teks non buku. Bahkan sekitar 20,30 persen responden melewatkan waktu senggangnya tanpa membaca apa pun. Tidak kurang dari 67,16 persen responden tidak pernah mengunjungi perpustakaan, dan 58,21 persen responden tidak pernah menganggarkan gaji per bulannya untuk membeli buku.

Melek Huruf Secara Fungsional

Jika soal minat/tidak minat baca tidak ada sangkut pautnya dengan ketersediaan bacaan atau mahal-murahnya harga buku, lalu dari pintu mana, gerakan gemar membaca hendak masuk? Ada baiknya kita simak bersama, laporan UNESCO tahun 2005 berjudul Literacy for Life. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa ada hubungan yang erat antara illiteracy dengan kemiskinan. Di banyak negara, di mana angka kemiskinan tinggi, tingkat literasi cenderung rendah. Illiteracy menyebabkan tingkat penghasilan perkapita rendah. Seperti yang terjadi di Banglades, Ethiopia, Ghana, India, Nepal, dan Mozambique. Lebih dari 78 persen penduduknya, penghasilan per hari di bawah 2 dollar AS.

Literasi—istilah lain dari melek huruf secara fungsional—adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berhitung, dan berbicara. Serta kemampuan mengindentifikasi, mengurai dan memahami masalah. Baik yang terjadi di lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, maupun di lingkungan yang lebih luas, negara. Sehingga ketika mendapati satu masalah, mampu menentukan berbagai pilihan bentuk penyelesaian. Kemampuan literasi memampukan luasan pengetahuan dan pengetahuan seseorang menjadi berkembang. Dan salah satu "tenaga dalam" kemampuan literasi adalah dengan membaca buku.

Deskripsi di atas menjelaskan kepada kita bahwa illiteracy memengaruhi rendahnya tingkat produktivitas kerja dan partisipasi dalam masyarakat. Konsekuensinya adalah berupa rendahnya derajat kesejahteraan ekonomi keluarga.

Baca, sejahtera! Dua lema (entry) itu yang menurut saya kunci dalam gerakan gemar membaca. Jurkam minat baca harus mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa membaca buku secara langsung maupun tidak langsung akan memengaruhi besaran rupiah yang bakal mereka dapat.

Mereka yang memunyai kemampuan literasi (melek huruf secara fungsional), berkesempatan mencari dan memperoleh informasi yang memungkinkan mereka mengembangkan usaha: misalnya soal produk apa yang sedang dicari orang; mencari celah-celah pasar baru; dan sebagainya. Komunikasi dengan rekanan bisnis jadi efektif dan hemat, terbukanya kesempatan mengikuti kursus atau pelatihan untuk meningkatkan kapasitas. Termasuk lincah menciptakan lowongan kerja bagi dirinya sendiri. Contoh paling nyata, mudah dan sederhana untuk menjelaskan hubungan antara minat baca dengan kesejahteraan ekonomi (baca: penghasilan naik), adalah seperti yang telah saya tulis di awal: Kuadi, penarik becak yang mahir mendalang.

Oleh. Agus M. Irkham


Blog EntryDibangun, Pusat Buku IndonesiaMay 14, '08 11:31 AM
for everyone
Setelah lebih dari 25 tahun direncanakan, Pusat Buku Indonesia akhirnya bisa dibangun. Lokasinya di Hypermall Kelapa Gading, Jakarta Utara. Pusat Buku Indonesia ini akan menjadi pusat informasi dan distribusi buku di Indonesia.

Pusat Buku Indonesia ini akan menjadi tempat berkumpul perusahaan-perusahaan penerbit yang disebut pelayanan pendidikan dalam satu atap. Di sini akan ada lebih dari 1.500 stand, 776 stand di antaranya khusus untuk anggota IKAPI.

Waktu bukanya dari pukul 09.00 -21.00 setiap harinya. Peresmiannya akan dilakukan Wakil Presiden pada bulan Mei ini. Nanti di tempat ini juga akan banyak kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan dan bisa jadi tempat bank naskah buku.

Pusat Buku Indonesia akan menjadi tempat pertemuan dari berbagai pihak yang berkepentingan dengan perbukuan, lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran. Bagi masyarakat umum juga akan lebih mudah mendapatkan buku bermutu sesuai kebutuhan.

Sumber: http://www.kompas.com


Blog EntrySayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan 2008May 14, '08 4:53 AM
for everyone

Tema Sayembara:

Melalui Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan kita tingkatkan budaya baca dan tulis dalam rangka mewujudkan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif, yang berkeadilan, bermutu, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat lokal dan global.

Tema Penulisan:
Kehidupan bermasyarakat dengan penekanan pada:

- peningkatan iman, takwa, dan akhlak mulia, serta kualitas jasmani;

- peningkatan etika, estetika, ilmu pengetahuan, dan teknologi;

- peningkatan daya saing bangsa dengan terciptanya manusia yang mandiri, bermutu, 

  terampil, ahli dan profesional, mampu belajar sepanjang hayat, serta memiliki kecakapan

  hidup.

 

Catatan:
Penulis dapat memilih salah satu atau gabungan (lebih dari satu) tema penulisan yang ditentukan.

Peserta Sayembara:
Pendidik dan tenaga kependidikan baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun. Peserta sayembara yang pernah menjadi pemenang tiga kali atau lebih tidak diperkenankan lagi menjadi peserta sayembara.

Naskah yang Disayembarakan:
Naskah buku yang disayembarakan adalah buku pengayaan, yaitu buku yang memuat materi yang dapat memperkaya pengetahuan, mengembangkan keterampilan, dan membentuk kepribadian/ watak yang positif peserta didik untuk jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA. Adapun naskah buku pengayaan yang disayembarakan dibedakan atas dua kelompok, yaitu (1) fiksi dan (2) nonfiksi.
 

Hadiah:

Pemenang I senilai Rp 17.000.000,00

Pemenang II senilai Rp 16.000.000,00

Pemenang III senilai Rp 15.000.000,00

Hadiah tersebut di atas belum dipotong PPh 15%.

 

Keterangan selengkapnya dapat download pengumuman dengan klik disini.
 

Sumber: www.sibi.or.id


Blog EntryMasjid KampusApr 6, '08 2:35 AM
for everyone
Istilah “masjid kampus” mulai populer kira-kira awal 1980-an, bersamaan dengan semakin maraknya kegiatan mahasiswa dan remaja pada umumnya di masjid-masjid yang sengaja dibangun di lingkungan kampus perguruan tinggi.

Di beberapa perguruan tinggi, bahkan terlihat masjid menjadi alternatif pilihan untuk mengisi waktu di luar kegiatan perkuliahan formal. Kenyataan ini terus berkembang, sehingga masjid kampus berfungsi bukan saja untuk kepentingan kegiatan keagamaan (ritual), tapi juga jenis-jenis kegiatan lainnya, seperti kelompok belajar, kegiatan seni budaya, latihan kepemimpinan, dan lain sebagainya.

Pelebaran fungsi seperti itu secara konsepsional sebetulnya bukan sesuatu yang baru, bahkan merupakan proses idealisasi sesuai dengan fungsi yang sesunggguhnya seperti juga terjadi pada zaman Nabi. Kenyataan di masyarakat kita memang masih memperlihatkan fungsinya yang sangat sempit. Masjid, secara umum, seringkali diidentikkan dengan tempat shalat bagi mereka yang mengaku Islam sebagai agama anutannya. Di luar itu, masjid seolah-olah tidak memiliki fungsi sosial apapun. Lebih-lebih untuk kegiatan-kegiatan yang bernuansa bisnis. Bahkan sebagiannya masih ada yang cenderung menganggapnya “haram”. Akibatnya, peningkatan jumlah masjid di tengah-tengah kehidupan masyarakat dewasa ini nyaris tidak berpengaruh terhadap penurunan angka kemiskinan ataupun tensi konflik sosial yang dihadapinya.

Hingga saat ini, masjid-masjid yang jumlahnya mencapai puluhan ribu dan diperkirakan masih akan terus bertambah, tampaknya belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini terutama karena disebabkan oleh masih rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang masjid, selain itu, perhatian kita masih terfokus pada usaha pengadaan sarana fisik. Padahal, pemenuhan kebutuhan non-fisik untuk memakmurkan masjid seperti diperintahkan Allah dalam al-Quran, hingga saat ini masih relatif terabaikan.

Optimalisasi fungsi masjid ini pada gilirannya dapat juga bermanfaat bagi pembinaan jama’ah dan masyarakat pada umumnya, bukan saja dalam aspek kegiatan ibadah ritual tapi juga bagi pembinaan aspek wawasan sosial, politik dan ekonomi, serta wawasan-wawasan lainnya sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman khususnya seperti yang kita saksikan sekarang ini. Optimalisasi fungsi seperti inilah yang justru terjadi di masjid-masjid kampus yang dari sisi kualitas sumber daya kejama’ahannya relatif lebih maju. Mereka adalah lapisan komunitas terdidik, sekurang-kurangnya sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Gambaran seperti ini memperlihatkan sebuah miniatur fungsi sesuai yang diharapkan, sehingga masjid kampus dapat menjadi semacam ”laboratorium” pembinaan umat, untuk kemudian dikembangkan di masjid-masjid pada umumnya. Dalam situasi apapun, idealnya, masjid dapat dijadikan pusat kegiatan masyarakat untuk berusaha mewujudkan tatanan sosial yang lebih baik. Jika selama ini pusat pembinaan masyarakat masih terpusat ke lembaga-lembaga formal seperti sekolah dan madrasah, maka bagi masyarakat sekarang harus juga dikembangkan lembaga kemasjidan sebagai salah satu alternatif pembinaan umat dan bahkan bangsa secara keseluruhan.

Sebab, sejak zaman Nabi, selain difungsikan sebagai tempat pelaksanaan ibadah, masjid juga telah banyak difungsikan sebagai pusat kebudayaan, pusat ilmu pengetahuan, pusat informasi, pusat pengembangan ekonomi kerakyatan, pusat pengaturan strategi perang dan damai, serta pusat pembinaan dan pengembangan sumber daya umat secara keseluruhan.

Pengelolaan Masjid Kampus

Masjid kampus umumnya dikelola melalui manajemen yang lebih baik dibanding masjid-masjid pada umumnya. Hal ini mudah dipahami, karena para aktivitas adalah warga kampus dengan konsentrasi kegiatan yang relatif belum terbagi. Bahkan banyak di antara mereka yang sengaja tinggal di masjid, sehingga masjid terjaga 24 jam. Pengelolaan kegiatan cenderung diterima jama’ah, karena warna kejama’ahannya yang relatif homogen, baik dari sisi usia maupun kepentingan.

Di masjid para jama’ah -yang umumnya mahasiswa- dapat mengikuti kegiatan-kegiatan yang memang dibutuhkan. Mereka bukan hanya shalat dan mengaji, tetapi juga berdiskusi tentang berbagai kesulitan yang dihadapi dalam perkuliahan. Bahkan, pada situasi tertentu, masjid juga dapat berubah menjadi identitas komunitas khas yang berbeda dari komunitas kampus pada umumnya. Mereka membentuk secara alamiah kekuatan sosial yang “berhadapan” dengan kekuatan-kekuatan lainnya di luar komunitas masjid. Tidak heran jika pada saat pemilihan kepemimpinan mahasiswa di kampus, misalnya, para aktivis masjid mengambil posisi tersendiri untuk memperoleh ruang partisipasi yang lebih strategis.

Di sinilah masjid menjadi tempat pembinaan calon pemimpin, sekaligus menjadi pusat kegiatan “politik” untuk melakukan mobilisasi massa. Karena itu, belajar dari pola-pola pengelolaan masjid kampus, tidak salah, bahkan sangat tepat, jika masjid pada umumnya kita maksimalkan fungsinya untuk kepentingan-kepentingan pencerahan wawasan kepedulian sosial umat, khususnya melalui ikhtiar pemberdayaan dan demokratisasi. Mengembalikan fungsi masjid yang sesungguhnya, sebagai tempat untuk bersujud, menempelkan dahi dan telinga ke bumi, mendengarkan rintihan manusia, sekaligus meneruskan realitas itu lewat do’a. Di sinilah kekuatan spiritualitas dapat ditransformasikan ke dalam gerakan sosial yang lebih fungsional.

Masjid dapat berfungsi ideal jika dikelola secara ideal pula. Dan masjid kampus memiliki peluang yang lebih besar untuk menghimpun para jama’ah yang siap mengelola secara ideal. Mereka pada umumnya memiliki idealisme, sekaligus memiliki waktu yang relatif bebas. Di luar kegiatan kampus, mereka memiliki kesempatan yang lebih panjang untuk mengelola masjid. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan memperoleh sukses belajar, mereka juga dapat menjadikan masjid sebagai tempat kegiatan belajar di luar kelas.

“Eksklusifisme” Positif

Memang ada kesan eksklusif yang melekat pada sebagian aktivis masjid kampus. Akan tetapi, jika ditelusuri akar pertumbuhannya, eksklusifisme itu sebetulnya menjadi sebuah keniscayaan sebagai implikasi proses sosial yang dilaluinya. Interaksi di antara para aktivis masjid kampus relatif intensif, melalui berbagai kegiatan yang juga cenderung diminati bersama karena dirumuskan atas dasar kebutuhan bersama pula. Karena itu, kegiatan apapun yang mereka lakukan hampir selalu berlangsung hingga proses internalisasi, yang ini jarang terjadi pada kegiatan-kegiatan jama’ah masjid pada umumnya. Proses internalisasi inilah yang memungkinkan dapat membentuk watak atau kepribadian yang revolusionir, sehingga terkesan “eksklusif”.

Para aktivis masjid kampus umumnya berlatar belakang heterogen. Mereka ada yang memiliki latar pendidikan agama yang kuat, seperti para santri dari pesantren-pesantren atau siswa madrasah, yang memang memiliki sistem sekolah sehingga para lulusannya dapat melanjutkan ke perguruan tinggi. Tetapi, ada pula di antaranya yang mungkin baru mengenal Islam ketika mereka mulai berinteraksi di kampus. Sikap keberagamaan para aktivis msjid kampus yang bergerak di antara dua corak pemahaman keagaman ini juga akan membentuk dinamika sosial yang tidak biasanya terjadi.

Pertanyaannya kemudian adalah, apakah eksklusifisme ini akan mendorong perilaku sosial yang negatif? Pertanyaan ini penting dikemukakan karena ada gejala yang oleh sebagian pihak dianggap menghawatirkan.

Eksklusifisme ini, menurut saya, positif. Kita bisa melihat dari sisi proses perkembangan kepribadian seseorang atau sekelompok orang. Sikap para aktivis masjid kampus seperti itu sebetulnya juga dipengaruhi oleh pergumulan pemikiran antara ilmu-ilmu yang dipelajari di bangku kuliah dengan informasi-informasi keagamaan yang mereka terima di masjid. Melalui kecerdasan yang tentu di atas rata-rata dengan kebebasan berpikir yang juga cenderung lebih terbuka, sangat memungkinkan lahirnya apa yang disebut “eksklusif”.

Tetapi, sekali lagi, itu hanya sebuah proses. Perubahan akan terus berlangsung. Mereka akan terus bergerak mengikuti perkembangan pemikirannya yang semakin matang. Sehingga pada saatnya kemudian, mereka akan menemukan kematangan berpikir yang lebih sesuai dengan tuntunan sosial, dan bukan hanya memenuhi tuntutan individual. Lewat hati nurani, mereka berusaha melakukan refungsionalisasi masjid, terutama untuk menyelesaikan berbagai kemelut sosial, politik, hukum dan ekonomi yang menurut pertimbangan mereka terasa semakin menjerat kehidupan sekaligus memenjarakan kebebasan.

Di sinilah mereka “berijtihad” untuk menemukan konsep ideal masyarakat dengan masjid sebagai basis moral yang dibangunnya.

Sumber: http://www.masjidonline.net

Blog EntryGaya hidup buku vs handponeMar 29, '08 10:55 AM
for everyone
Apakah manusia benar-benar memerlukan handphone?

Di era serba canggih seperti saat ini, rasanya ada yang kurang seandainya kita tak punya handphone. Memang manusia tak akan mati hanya gara-gara tak punya handphone. Tapi benda mati yang satu ini telah menyebabkan demikian banyak manusia mengalami ketergantungan kronis. Jika seorang karyawan pergi ke kantor dan lupa membawa handphonenya, hampir dapat dipastikan ia akan kelabakan sehari penuh.

Apa sebenarnya fungsi utama handphone?

Tentu saja, untuk mempermudah komunikasi. Handphone memungkinkan kita menelepon sambil berjalan kaki di trotoar jalan, atau ketika kita berada jauh dari rumah. Handpone adalah sebuah teknologi yang jauh lebih fleksibel daripada telepon rumah, karena ia tanpa kabel dan bisa dibawa ke mana-mana.

Tapi manusia adalah makhluk yang tak pernah puas. Rasanya kok ada yang kurang jika handphone hanya bisa dipakai untuk menelepon dan ber-SMS ria. Tentu asyik jika lewat handphone kita juga bisa mendengarkan siaran radio, memutar MP3, main game, bahkan menonton acara televisi.

Maka, fungsi handphone pun kini bergeser jauh. Ia tidak lagi sekadar mempermudah komunikasi manusia. Handphone masa kini adalah sebuah produk teknologi yang memanjakan gaya hidup dan keinginan manusia yang tak ada habis-habisnya.

Kian hari, kian banyak orang yang memiliki handpone. Handphone bukan lagi barang mewah, tapi telah berubah menjadi benda yang amat dibutuhkan, bahkan oleh tukang ojek dan kuli bangunan sekalipun.

Permintaan terhadap handpone - beserta segala macam aksesorisnya - terus bertambah. Ini - antara lain - menyebabkan toko handphone menjamur di mana-mana. Jika di sebuah ruas jalan ada 10 toko, 4 atau 6 di antaranya adalah toko handphone. Toko handphone tidak hanya terdapat di jalan besar. Ia juga hadir di gang-gang kecil, bahkan di perkampungan yang sepi.

Handphone kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gaya hidup manusia. Padahal fungsi utamanya hanya untuk mempermudah urusan komunikasi.

Tidak percaya?

Lihatlah iklan-iklan handphone di televisi. Yang mereka tonjolkan bukan kecanggihan tertentu di bidang komunikasi, tapi kecanggihan kameranya, fitur Radio FM-nya, MP3 playernya, bahkan desainnya yang stylist dan keren abis.

Lihat pulalah perilaku saudara, tetangga atau teman-teman kita. Mereka rela mengganti handphone hanya dengan alasan, "HP jadul gue udah kuno banget. Gue mau ganti dengan yang lebih canggih gitu loch."

* * *

Apakah manusia benar-benar memerlukan buku?

Buku adalah sahabat sejati manusia sejak zaman dahulu. "Buku adalah guru yang tak pernah marah". Di dalam buku terkandung demikian banyak pengetahuan, wawasan, dan/atau keterampilan. Ini amat berharga bagi perkembangan kecerdasaran dan pemikiran kita. Tanpa buku, tak mungkin kita menjadi orang sukses seperti saat ini. Tanpa buku, tak mungkin ada internet, saya tak mungkin membuat tulisan ini, Anda pun mungkin tak pernah mengenal saya.

Maka, tak dapat dipungkiri bahwa manusia sangat membutuhkan buku. Memang, manusia tak akan mati hanya gara-gara tidak membaca buku. Tapi tanpa membaca buku, manusia tak ubahnya seperti - maaf - hewan yang hidupnya begitu-begitu saja, tak pernah berkembang dari waktu ke waktu.

Apa sebenarnya fungsi utama buku?

Seperti disebutkan di atas, buku adalah jendela pengetahuan. Buku adalah gerbang menuju demikian banyak "harta" karun yang bisa memperkaya hidup kita, membuat hidup kita jauh lebih berkualitas dari sebelumnya. Buku memiliki fungsi dan peran yang amat penting bagi peradaban umat manusia.

Tapi apakah buku telah menjadi gaya hidup kita?

Berita buruknya: BELUM! Kita belum bisa memperlakukan buku seperti handphone.

Toko handphone ada di mana-mana, bahkan hingga gang kecil sekalipun. Tapi toko buku hanya bisa ditemukan di tempat-tempat tertentu.

Kita rela mengeluarkan uang Rp 2 juta bahkan lebih untuk bergonta-ganti handphone. Tapi kita merasa amat berat untuk mengeluarkan uang Rp 30.000,- atau Rp 50.000,- untuk membeli buku.

Kita bangga memamerkan handphone kita pada orang lain. Tapi kita takut dicap "kutu buku".

Hampir semua media massa, film, sinetron, hingga cerpen dan novel, menggambarkan orang yang gemar membaca buku sebagai manusia yang kaku dalam bergaul, berkaca mata tebal, dan penampilannya kuno. Sebuah pembunuhan karakter yang sangat sadis, tapi kita menikmatinya sambil tertawa-tawa, sebab sosok si kutu buku di sinetron sering terlihat sangat lucu.

Orang yang rajin membaca buku seharusnya pintar, intelek, berwawasan luas sehingga sangat layak untuk dikagumi dan dijadikan panutan, NAMUN secara tragis justru dihadirkan sebagai jenis manusia yang paling memalukan di atas dunia ini.

Benarkah buku akan membuat kita menjadi kuno?

SAMA SEKALI TIDAK!

Bagaimana caranya sehingga para pakar bisa menciptakan handphone yang serba canggih? Salah satunya, karena mereka rajin membaca buku!

Bagaimana caranya sehingga para pebisnis televisi berhasil membuat acara-acara yang menarik sehingga kita-kita para penonton ini jadi terbius dan memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap televisi? Salah satunya, karena mereka membaca buku tentang "cara memanjakan pemirsa dengan acara-acara yang menarik."

Maka, buku justru merupakan sarana yang memungkinkan manusia menikmati kehidupan yang jauh lebih modern. Buku adalah sarana yang bisa membawa kita menuju peradaban yang jauh lebih baik.

"Buku bisa melahirkan handpone" tapi "handphone tak bisa melahirkan buku" (kecuali buku panduan yang disertakan pada setiap kardus handphonebaru) .

Masalahnya, kita begitu mencintai handphone, tapi kita menganaktirikan buku. Kita memperlakukan handphone sebagai bagian dari gaya hidup. Tapi kita memperlakukan buku tak lebih sebagai beban yang dipakai ketika ada hal-hal mendesak yang menyebabkan kita terpaksa membaca buku.

Sekarang, mari kita bertanya pada diri masing-masing; Apakah handphone yang amat kita cintai itu bisa membuat hidup kita jauh lebih berkualitas dari sebelumnya? Apakah handphone kesayangan kita itu mampu membuat kita menjadi manusia yang jauh lebih pintar dari sebelumnya?

Jika jawabannya adalah tidak, lantas kenapa kita masih lebih mencintai handphone ketimbang buku?


Jonru
http://www.jonru.net/gaya-hidup-buku-vs-handpone